Menapak Asa dari Alas Kaki

Alas kaki kini lebih beragam jenis dan modelnya. Ini karena alas kaki dipilih bukan hanya pertimbangan nyaman saat dipakai, tapi juga bentuknya yang cantik dan unik dipandang. Tak terkecuali sandal jepit. Jika dulu sandal jepit dengan model standar yang itu-itu saja, beberapa tahun terakhir berkembang lebih kreatif.

Sebut saja sandal karakter yang merupakan produk kerajinan terbuat dari spon, kemudian dibentuk pola tokoh kartun yang unik dan lucu. Pola tokoh ini terinspirasi dari film kartun, sehingga sangat disukai anak-anak, bahkan remaja dan orang tua.

Bentuknya yang unik dan warna-warni, membuat model sandal satu ini kian mendapat tempat di hati konsumen. Terlebih harganya yang sangat terjangkau. Tak salah jika dalam waktu singkat pelaku usaha produk ini terus bertambah karena melubernya permintaan.

Seperti penuturan Endang MH, karyawati salah satu pusat kebugaran di Surabaya. Sejak melihat salah satu koleksi produk sandal karakter di internet, ia langsung tertarik dengan beberapa model. Pencarian alamat pun dilakukan hanya untuk membeli 1-2 pasang model.

“Modelnya lucu-lucu, seperti panda, stroberi, ikan dan lainnya. Harganya pun bisa dibilang hampir sama dengan sandal jepit rumahan. Bedanya, sandal karakter ini bisa dipakai jalan-jalan, terlihat santai namun trendi,” kata Endang, Kamis (15/7).

Ketika ia memakai sandal ini, ternyata banyak tetangganya yang tertarik. Merasa ada peluang, ibu rumah tangga ini mencoba menawarkan produk unik itu. “Toh ada sistem keagenan yang memberikan harga diskon dari produsen, dan itulah margin kita. Jadi, selain bisa selalu update model baru untuk dipakai sendiri, bisa juga untuk jualan kecil-kecilan,” ungkapnya.

Besarnya pasar sandal karakter menjadi peluang tersendiri tak hanya bagi produsen, namun juga jaringan penjualan yang sebagian besar diserahkan kepada agen. Effendi, produsen sandal Kaki-Q dan Japit-Q mengakui, tren sandal karakter mulai booming sejak 2008, di mana banyak produk beredar di pasar.

“Persaingan memang cukup ketat. Namun produk yang memiliki kualitas bahan di atas rata-rata akan tetap eksis, demikian juga dengan harga yang tentunya harus bisa terjangkau dan kompetitif,” ulas pria yang kini telah memiliki lebih dari 35 agen di seluruh Indonesia ini.

Selain itu, Effendi yang mengembangkan usaha bersama istrinya ini, terus mengeluarkan model-model baru dengan inovasi yang unik. Ini menjadi salah satu kunci agar permintaan produknya terus meningkat. Soal satu ini, paling tidak setiap dua bulan sekali ia menciptakan 1-2 model baru.

Dengan harga jual kisaran Rp 20.000-25.000 per pasang, saat ini rata-rata ia mampu memproduksi sekitar 8.000-10.000 pasang per minggu. Sebagian besar produksi dikerjakan melalui kelompok atau mitra kerja perajin yang ada di sekitar tempat tinggal. “Pekerja tetap 15 orang, lebih dominan untuk tenaga pemasar,” ujar warga perumahan Garden Dian Regency di kawasan Juanda, Sidoarjo.

Saat ini, Kaki-Q telah mengoleksi puluhan model yang ia kategorikan dalam beberapa tema, seperti sandal distro, sport edition, Baguza dan Gimmick. Ukuran tersedia mulai kecil, sedang dan besar.

Produk sandalnya beredar melalui agen-agen di Jakarta, Bandung, Manado, Mamuju, Semarang, Jogjakarta, Palembang, Lampung, Padang, hingga Kalimantan. “Ada permintaan dari Jepang, Timor Leste, Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura. Namun masih jadi pertimbangan karena kualitasnya harus prioritas, kami juga mesti mempersiapkan penambahan kapasitas produksi,” jelas Effendi, yang saat ini meraup omzet mendekati Rp 500 juta per bulan.

Kondisi penjualan yang membaik juga dialami produsen sandal kreatif merek Dhiif’s. Kepala Produksi Dhiif’s Niken Puspoweni mengakui, produksinya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, saat ini sekitar 7.000 pasang per hari.

Permintaan yang terus mengalir ini lantaran usia sandal yang biasanya tidak lama. Sandal Dhiif’s lazimnya sandal rumahan yang terbuat dari bahan spon padat yang rata-rata usianya satu tahun.

Tak ubahnya sandal jepit dari bahan karet, kepadatan spon juga bisa tergerus alias geripis. Lemnya bisa tidak menguat lagi. Pada saat itu maka orang akan beli sandal baru dengan model baru.

“Kita sengaja bermain di segmen low-end sandal harian, karena kalau harganya murah maka perputaran uangnya juga cepat. Sistem penjualan dengan agen, tidak mal-to-mal atau bikin outlet khusus karena ongkosnya pasti besar sekali,” jelas Niken.

Dengan sistem pemasaran agen, terbukti penjualan sandal Dhiif’s meroket. Saat ini omzet per bulannya bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Apalagi bulan depan upaya ekspor akan dijajaki. “Bulan depan ada permintaan dari Malaysia 300 pasang. Ini ekspor pertama, makanya tidak banyak karena distributor di sana ingin melihat respons pasar dulu,” katanya.

Harga jual per pasang Rp 23.500, baik sandal anak maupun dewasa. Untuk luar pulau harganya menjadi Rp 25.000 per pasang. Dhiif’s merupakan sandal yang diproduksi sejak 2003 oleh pasangan suami istri Purnomo Probo Nugroho dan Nur Wahyu Hidayati, yang memang perajin sandal.

Bagi suami-istri ini, bentuk sandal yang standar market-nya sudah jenuh karena persaingan dengan sandal lain sangat padat. “Waktu itu iseng-iseng bikin sandal karakter boneka untuk anak. Responsnya bagus. Maka terus dikembangkan berbagai karakter, termasuk sandal dewasa,” ujarnya.

Karakter yang disajikan ada mobil, tupai, panda, hati, jamur, paus, kumbang, bola basket, anggur, apel, belimbing, stroberi, kodok, dan masih banyak lagi jenisnya, yang bisa dibentuk sesuai order. surya.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar