Langsung ke konten utama

Siap Gelar Pelatihan Berkala

Faktor permodalan tak jarang menjadi kendala para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) maupun UKM. Meski pengembangan usaha berawal dari niat yang besar, namun faktor permodalan tetap dipandang penting.

Pada banyak kasus, UKM akhirnya hanya bisa mengakses permodalan melalui keluarga, lembaga keuangan nonbank sampai bank-bank thitil. Pengajuan pinjaman ke perbankan memiliki kriteria persyaratan yang cukup detil.

Sekretaris Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jatim Widartoyo mengatakan, keterbatasan akses permodalan ke perbankan diakibatkan UKM tidak memiliki pembukuan laporan keuangan yang benar.

“Seharusnya, jika mereka mampu menyusun laporan keuangan yang akuntable, perbankan bisa memiliki estimasi berapa omzetnya per bulan dan berapa kemampuan ia membayar angsuran,” kata Widartoyo, Jumat (9/4).

Menurutnya, pelaku usaha yang telah menjalankan laporan keuangan dengan standar akuntansi keuangan baru sebatas pelaku usaha skala besar dan koperas-koperasi. “Kalau pelaku usaha individu skala mikro saya rasa belum ada,” imbuhnya.

Untuk itu, IAI siap memfasilitasi hal ini. “Kita gelar pelatihan secara berkala dengan mengundang para pelaku UMKM dan UKM. Kita akan ajari bagaimana membuat laporan keuangan dengan tiga model Standar Akuntansi Keuangan (SAK),” ujar Widartoyo.

Keuntungan bagi UKM yang memiliki laporan keuangan dengan SAK, juga bisa meringankan pajak. Apabila pelaku usaha itu tidak punya laporan keuangan, maka penghitungan pajak hanya berdasarkan norma, misalnya dilihat dari berapa pengeluaran setiap bulan, anak sekolah di mana, apa saja perkakas yang dimiliki.

“Kalau dihitung dengan cara ini biasanya pajaknya justru jauh lebih besar. UKM sendiri yang rugi. Kalau pakai laporan keuangan kan nilai kena pajaknya jelas,” pungkas Widartoyo. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...