Langsung ke konten utama

Ingin Bermanfaat Lebih Banyak melalui Roncean Tasbih


Tasbih umumnya terbuat dari bahan kayu cendana dengan dominasi warna coklat, hitam atau batu fosfor warna putih yang bisa menyala. Namun, kini semakin banyak dijumpai model tasbih dengan bahan mulai mutiara imitasi, kaca hingga batu-batuan. Warnanya pun semakin beragam, kuning, hijau, biru, ungu, juga pink.

Di tangan Ira Puspitasari, aneka batu-batuan, perak, mutiara imitasi atau kaca itu bisa berubah wujud menjadi roncean tasbih nan cantik. Apalagi, masih ditambah batuan Swarovski.

“Apa yang saya mulai ini karena belum cukup puas dengan produk aksesoris wanita. Saya ingin bisa memberi lebih banyak manfaat bagi semua orang atas hasil karyanya. Yaitu dengan membuat tasbih unik yang dibuat dari beragam batu-batuan,” tutur Ira, Kamis (12/8).

Memang, tasbih buatannya tak lepas dari hasil keisengannya dalam memadupadan aksesoris dan barang yang selama ini telah ia geluti sejak dua tahun terakhir. “Saya berpikir kalau misalnya batu-batuan ini saya padu dengan butiran tasbih kayaknya cukup unik. Ternyata banyak teman yang suka,” papar Ira, yang memulai membuat tasbih sejak awal tahun ini.

Agar produk tasbih uniknya lebih dikenal, ia menampilkan kreasinya di internet, seperti yang selama ini kerap dilakukan pada produk aksesoris semacam bros, anting, gelang, hingga gantungan ponsel.

Tak disangka, order mulai berdatangan. Tak hanya dari konsumen yang selama ini rutin membeli aksesoris buatannya, namun juga banyak menyedot konsumen baru yang membeli untuk kebutuhan souvenir, acara-acara tahlilan dan pengajian.

Larisnya produk buatannya itu karena ia cukup pintar menambah aksesoris batu-batuan, swarovsky, dan aksesoris lain pada tasbih yang dibuatnya. Ia memilih bahan tasbih yang masih langka di pasar, seperti logam, perak, kerang-kerangan hingga mutiara imitasi. Untuk merek, ia tetap menggunakan inBeads seperti yang selama ini dikenakan pada produk aksesoris.

Guna memberikan kepuasan bagi konsumen, Ira bisa memasukkan permintaan konsumen dengan kreasinya. “Misalnya konsumen minta aksesoris pembatas mutiara imitasi pada tasbih  terbuat dari batu apa, modelnya bagaimana dan sebagainya, kita cukup customize,” ungkapnya.

Meski cukup kompromi terhadap permintaan konsumen, bukan berarti ia hanya mengandalkan contoh yang disodorkan pembeli. Paling tidak dalam 1-2 bulan sekali ia berupaya menciptakan model baru.

“Pada dasarnya semua saya lakukan karena saya suka memakai aksesoris maupun membuatnya. Sehingga, untuk saat ini saya belum berpikiran mengangkat tenaga kerja. Semua saya lakukan sendiri,” ujar wanita 27 tahun yang juga berprofesi sebagai apoteker.

Karena masih skala kecil, istri Suluh Aji Aribowo ini masih menjalankan semuanya sendiri di sela kesibukannya di bidang farmasi. Pun demikian dengan modal kerja untuk menjalankan roda usahanya.

“Masih kecil jadi belum berpikiran menambah modal ke pihak ketiga. Alhamdulillah suami sangat mendukung kegiatan ini,” ucap ibu satu putra ini.

Meski dikerjakan sendiri, Ira cukup lihai dalam meronce tasbih atau aksesoris. Pasalnya, dalam sehari saja, ia mampu membuat hingga 20 piece tasbih yang dilakukan di sela rutinitas pekerjaannya.

Soal harga, Ira mengaku masih terjangkau untuk kantong masyarakat menengah bawah. Untuk tasbih ukuran jumlah isi 33 butir ia patok dengan harga mulai Rp 4.000-8.000 per piece. Harga itu jauh lebih murah dibanding produk aksesorisnya. Bandingkan dengan harga bros yang mencapai Rp 35.000-50.000 per piece, atau gelang yang di kisaran Rp 25.000-40.000 per piece.

Tak heran jika banyak pelanggannya yang datang tak hanya dari Surabaya dan sekitarnya sjaa, namun juga tak sedikit pembeli dari Jakarta, Tangerang, Depok, hingga Bandung yang meminati produknya.

“Bagi saya yang penting produk inBeads dikenal luas dulu. Soal harga bisa fleksibel, apalagi yang order dalam jumlah banyak,” ujar Ira yang menjadikan rumahnya di kawasan Makarya Binangun Waru, Sidoarjo, sebagai workshop-nya.

Memang, untuk saat ini berkat usaha yang digelutinya pendapatan kotor yang ia raih rata-rata masih di kisaran Rp 750.000 per bulan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bukan tidak mungkin Ira melepas pekerjaannya dan memilih fokus di usaha itu.

“Semua butuh proses. Memang ke depan saya berobsesi memiliki pusat souvenir dan aksesoris sendiri dan totalitas di usaha ini,” harapnya. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...