Langsung ke konten utama

Menaikkan Gengsi Sinom dengan `Jamu Rupo Londo`

Harga sebuah ide memang mahal. Kerapkali seseorang bisa menangguk penghasilan besar karena berjualan ide. Itulah yang dilakukan Mahar Ayu Kaparing Dana, 21, warga Perumahan Wisma Sarinadi Sidoarjo. Di tangannya, minuman tradisional sinom berubah jadi minuman modern berkelas, tak kalah dengan minuman-minuman ringan buatan pabrik.

“Insprasi bisnis sinom muncul saat saya sering melihat pakde saya berjualan jamu,” kata Mahar, saat berbincang dengan Surya pekan lalu. Ceritanya, Mahar kerap melihat botol sinom dipasang berjejer dengan botol jamu lainnya. Bagi penjual jamu tradisional, biasanya sinom disuguhkan gratis setelah seorang pembeli meminum jamu yang dipesannya. Fungsinya mirip `pencuci mulut`, yakni agar lidah tak terasa pahit usai minum jamu.

Melihat itu, timbul ide Mahar. Dia berangan-angan minuman berbahan baku asam jawa dan daun pohon asam ini bisa sepopuler minuman ringan atau soft drink, dan bahkan bisa dikemas modern dan berkelas. Ia sengaja memilih sinom karena sejumlah minuman lainnya, misalnya sari kedelai dan teh, sudah banyak diproduksi secara modern dan disajikan sebagai soft drink, yang bahkan bervariasi.

“Terus, saya pikir kenapa tidak sinom,” kata Mahar menimbang-nimbang saat hendak memulai usahanya itu, dua tahun lalu.

Niat menaikkan gengsi sinom yang semula kelas tradisional menjadi minuman modern pun mendapat peluang. Pada tahun 2008, Mahar mengirimkan proposal wirausaha yang diminta kampusnya, STIE Perbanas Surabaya. Proposal usaha membuat minuman simon itu disetujui, dan modal sebesar Rp 1 juta pun didapatnya.

“Saya lalu coba jualan sinom yang saya ramu sedemikian rupa dengan aneka rasa tambahan sehingga tidak cuma satu jenis rasa. Pertama, saya coba berjualan saat ada acara di sebuah

SMA di Sidoarjo,” ungkapnya.

Selama tiga hari berjualan di sekolah itu, Mahar meraup omzet Rp 2, 5 juta. Separo dari penghasilan itu merupakan laba meskipun dia sebetulnya tidak bikin sendiri sinom tetapi kulakan dari pakde-nya, Subiyakto, yang membuka usaha jualan jamu di sejumlah lokasi di kawasan kota Sidoarjo.

“Ambil di pakde seharga Rp 500 per gelas sinom, lalu saya jual Rp 2.500 per gelas. Harga dari pakde murah karena sebetulnya gelasnya hanya untuk takaran. Tidak beli sekalian gelasnya. Nah, saya jual lebih mahal selain untuk ambil untung, juga karena saya menyediakan gelas plastik dan sedotan,” kata Mahar.

Karena jualan lancar dan untung mengalir, Mahar keranjingan. Dia lalu berjualan sinom dengan membuka outlet di Royal Plaza Surabaya, sejak Januari 2009 lalu. Di sebuah stan gerobak yang dijaga dua cewek, sinom Mahar pun dijajakan. Demi meraih lebih banyak pembeli, tambahan rasa sinom pun dia ciptakan beraneka. Sinom mal itu pun dia beri label J`rols yang merupakan singkatan dari jamu rupo londo.

“Kini saya membuat sendiri sinom yang saya jual,” cetus mahasiswa Semester VI enam jurusan Manajemen Pemasaran STIE Perbanas ini.

Saat ini, untuk produksi sinom, Mahar dibantu seorang pekerja. Ditambah dua penjaga stan J`rols berarti usaha Mahar kini diperkuat tiga personel.

“Gerobak atau rombong jualan, saya desain sendiri dan kemudian memesan ke pembuatnya,” kata anak pasangan Mahardono, 53, dan Ny Sugihartatik, 46.

Apa keunggulan sinom J’rols ini?

Mahar menyebut, terletak pada rasanya. Selain berasa khas sinom yang asam-manis, minuman yang dibuatnya itu juga tersedia dalam sejumlah pilihan rasa, yang disebutnya fruit sinom karena berasa buah-buahan. Misalnya jambu, stroberi, dan leci. “Kalau bosan dengan rasa sinom yang biasa, bisa mencicipi sinom dengan variasi rasa yang lain,” katanya setengah berpromosi.

Mahar menyadari, potensi bisnis sinom yang cukup besar bisa mengundang orang lain untuk meniru usahanya. Padahal, secara umum persaingan bisnis minuman, apalagi minuman ringan (soft drink), kini sudah ketat.

Karena itu, dia mencoba memfokuskan bidikan pasar ke kampus dan sekolah lewat kantin-kantin. Sedangkan untuk mempopulerkan J`rols, Mahar aktif membuka stan saat ada pameran atau event di sekolah atau kampus.

“Saya sekarang menjadi anggota Asosiasi Pedagang Event (APV). Jadi jika ada sebuah event, saya sudah siap untuk berjualan di sana,”katanya.

Omzet berjualan dalam sebuah event cukup menggiurkan. Dalam suatu event, dia kerap bisa meraup pendapatn Rp 5 juta selama lima hari atau sehari Ro 1 juta.

“Kalau dihitung, itu setara dengan simon sebanyak 60 liter,” katanya. Keuntungan bersih yang bias diraihnya dalam penjualan di suatu event bisa 50 persen dari harga jual sinomnya.

“Itu sudah saya kurangi untuk honor pekerja, yang per orang saya bayar Rp 50.000 sehari selama pameran,” urai Mahar.

Ke depan, karena J`rols mulai dikenal, ia akan segera mendaftarkan produknya ke Dinas Kesehatan dan mengupayakan hak paten. “Kalau ini terwujud, saya akan kembangkan bisnis ini dengan sistem waralaba,” katanya. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Agar Dikenal, Mesti Aktif Pertemuan Bisnis

Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar. Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan. “Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7). Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tid...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...