Langsung ke konten utama

Olahan Kurma Berbuah Manis

Buah kurma tidak lagi disajikan apa adanya. Sekadar buah coklat bulat panjang dengan biji di dalamnya. Kini, berkat kejelian dan kreativitas tangan-tangan trampil, kurma bisa dinikmati dengan beragam rasa.

Ada kurma yang terbuat dari buah salak atau kurma yang dilapisi coklat dengan beragam rasa, serta bijinya diganti dengan mente atau kenari. Siapa sangka jika produk-produk itu ternyata buah karya pengusaha UKM di Jatim.

Dodo Arief Dewanto misalnya, melihat produk kurma yang marak ditawarkan pedagang eceran hingga ritel modern selama ini hanya bermain pada kemasan yang menarik.

Menurutnya, konsumen tahunya makan kurma harus sibuk dengan membuang bijinya. “Karenanya, kita mencoba menawarkan pilihan menarik dan memiliki nilai jual lebih yakni dengan dilapisi coklat, bijinya diganti mente atau kenari,” kata Dodo, yang mulai bereksperimen tahun 2005.

Di luar dugaan, meski pemasarannya terbatas melalui blogspot, ternyata produknya banyak diminati. Tak hanya dari Jawa, beberapa kota di luar Jawa, seperti Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, juga melirik hasil kreasinya.

“Ada tiga pilihan ukuran besar, sedang dan kecil, dengan harga mulai Rp 10.000-25.000 per bungkus,” sebut pria 35 tahun ini, ditemui di kawasan Rungkut Madya, Surabaya, Kamis (22/4).

Banyak pilihan produk berbasis kurma dengan merek Chika itu, seperti kurma salut coklat isi mente bertabur almond atau wijen, kurma salut coklat putih isi mente dengan taburan kismis, kemudian kurma polos isi kenari salut coklat putih.

“Konsumen tertarik karena kemasannya menarik, terutama tak lagi ribet soal bijinya. Apalagi kita juga melayani permintaan dengan pilihan rasa di-mix,” papar Dodo, yang mengaku sejumlah ritel modern mulai melirik produknya.

Makanan ringan berbasis kurma merupakan salah satu dari sembilan macam produk yang dihasilkan dan dipasarkan Dodo. Didampingi istrinya, Meutia Ananda, alumni ITS Surabaya ini mulai merintis usaha camilan sekitar 2004.

Ketika merintis berbagai bahan makanan untuk kebab dan tortilla, ia mengaku pernah ditipu hingga ratusan juta rupiah. Modal yang dirintis habis dan terpaksa harus memulai dari nol dengan berdagang kue maryam di Gresik. Buah kesabarannya membuahkan hasil, bahkan sukses membuka beberapa gerai maryam di beberapa kota.

“Meski begitu, ternyata tak cukup bagi UKM kecil. Karena saat saya mencoba mengajukan kredit ke perbankan, ternyata semua bank di Surabaya menolak dengan alasan tak prospektif,” ulas mantan karyawan perusahaan rokok internasional.

Berbekal dana yang ia miliki, Dodo kembali memproduksi beberapa bahan makanan ringan yang ia pasarkan ke sejumlah perusahaan franchise dan restoran. Lambat laun, produknya mulai dikenal dan ia terus memperlebar segmen pasar.

Kini, ia memiliki sembilan macam produk di antaranya, tortilla/lebannes, roti burger, canai/maryam, cone pizza, daging kebab, daging burger, tahu Tasikmalaya, beragam coklat, kurma rasa dan beberapa variasi produk makanan.

“Saat ini, kapasitas produksi kami kisaran 70.000-200.000 piece per bulan,” tandas Dodo, yang mendapat kucuran kredit dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Untuk terus eksis, selain menata kualitas SDM yang mencapai 30 orang, Dodo juga menargetkan bisa mengeluarkan varian produk baru setiap tiga bulan sekali.

Kurma dari Salak

Lain lagi yang dilakoni Saniyah, 47, warga Dusun Morkolak, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Bangkalan. Ia mampu menyulap salak menjadi ‘kurma’, buah manis khas Arab Saudi.

Ide Saniyah muncul begitu saja, saat melihat para pedagang buah yang pulang tanpa membawa hasil. Jualan salaknya masih utuh. “Dari situlah, saya mulai memberdayakan buah salak yang tidak laku untuk diolah menjadi makanan. Sehingga, memberi keuntungan bagi pedagang, sekaligus memaksimalkan panenan,” tuturnya, pekan lalu.

Selain mendapat bahan baku dari penjual buah dengan harga Rp 60.000 per ember, yang berisi 5 kg, Saniyah bisa memanen salak dari kebun sendiri.

Untuk meningkatkan kemampuannya, ibu berkulit cokelat ini mengikuti pelatihan UKM di Nganjuk, awal 2005. Bermodalkan pelatihan itu, ia mencoba memaksimalkan buah salak yang tidak laku dan berhasil mengubah menjadi camilan ‘kurma’.

Prosesnya, diakui Saniyah, memang tidak mudah. Pertama, ia harus menggodok salak dengan air gula pasir yang sudah dicampur bensowat selama kurang lebih tiga jam. Dengan harapan, daging salak yang keras akan lembek, sekaligus berubah warna.

”Tahap ini, warna beserta bentuk salak berubah menyerupai buah kurma yang sudah matang,” urai ibu yang mendapat penghargaan Hortikulutural (pemberdayaan hasil kebun) dari Gubenur Jawa Timur, H Soekarwo ini.

Adapun air rebusan gula pasir yang sudah mengental itu diganti dengan air baru yang sudah tercampur gula pula hingga kesat. ”Sisa dari air rebusan pertama tidak saya buang. Itu bisa digunakan buat sirup salak,” katanya, seraya menunjuk kemasan botol sirup salak berwarna merah kecoklatan.

Tidak sampai di situ, Saniyah yang dibantu warga penghasil buah Salak melanjutkan ke proses penjemuran selama tiga hari. “Lima atau delapan orang tetangga biasanya ikut membantu. Mereka juga dapat bagi hasil,” terangnya.

Dari hasil pemberdayaan itu, Saniyah mampu menghasilkan kurma salak 40 hingga 50 kg per hari dengan penghasilan bersih Rp 2 juta dalam sebulan. Untuk pengemasan, ada dua macam. Kemasan yang dijual Rp 6.500/ons dan kemasan Rp 12.500/kg.

Soal pemasaran, Saniyah mengaku menitipkan hasil karyanya di beberapa toko yang menjual makan khas Madura, tempat perziarahan di Makam Syaichonacolil yang terletak di Desa Martejasah, Bangkalan. ”Di situ banyak pengunjung dari luar Madura, bahkan luar Jawa,” urainya.

Selain kurma salak, ketua kelompok tani Ambudi Makmus II ini juga memproduksi dodol salak, sirup salak, hingga kripik salak. “Sehingga, warga sudah jarang sekali ke pasar menjajakan salaknya, karena saya sudah memesan jauh-jauh hari untuk bahan baku kurma, dodol, sirup, dan kripik salak,” tuturnya.www.surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Agar Dikenal, Mesti Aktif Pertemuan Bisnis

Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar. Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan. “Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7). Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tid...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...