Langsung ke konten utama

Laris Manis Bisnis Brownis Tape

Makanan tape yang terbuat dari singkong hampir semua orang pernah merasakan. Jajanan yang dibuat melalui proses fermentasi itu, kini diolah lebih bervariasi dengan beragam tampilan dan rasa. Yang banyak dikenal sebut saja, suwar-suwir, tape bakar, prol tape, hingga brownies tape.

Selama ini suwar-suwir sudah dikenal sebagai buah tangan dari Kabupaten Jember. Namun kini, masyarakat bisa mendapatkan sejumlah jajanan kreasi berbahan tape singkong dalam daftar oleh-oleh mereka saat berkunjung ke Jember.

Panganan berbahan baku tape ini memang ‘diburu’ Windradini, pengajar sebuah perguruan tinggi di Jember. Lama berdomisili di Jember, menuntutnya untuk selalu membawa oleh-oleh khas saat harus pulang berlebaran ke rumah orangtuanya di Malang.

Ia mengaku bosan jika hanya membawa tape atau suwar-suwir. Dia ingin bisa membawa buah tangan khas yang lain, yang juga bisa menjadi suguhan saat berlebaran.

“Sejak tiga tahun terakhir ini, saya selalu membeli brownies tape. Kue ini sudah menjadi oleh-oleh khas yang enak dari Jember. Sebelum itu, saya juga mencoba membawa prol tape. Tapi, brownies memang kan lagi digemari, jadi sekarang ini rasanya lebih mengena,” ujar ibu tiga putra ini.

Menurut Windra, brownies tape yang diolah dari mencampur coklat dan tape, menghasilkan rasa yang manis sekaligus legit. “Jajanan ini sangat pas sebagai pelengkap saat kita berkumpul bersama sanak-saudara,” tuturnya.

Bukan hanya sebagai buah tangan, ia juga menjadikan brownies tape dan prol tape sebagai suguhan saat ada tamu atau sanak-saudara berkunjung dari luar kota. “Mereka biasanya bertanya di mana bisa membeli oleh-oleh khas Jember. Jadi, sekalian saja disiapkan. Apalagi harganya cukup terjangkau,” urai Windra.

Kemunculan brownis tape memang belum setua suwar-suwir yang telah diproduksi puluhan tahun silam. Namun, makanan ini bisa dengan mudah ditemukan di outlet-outlet di Jember dengan harga beragam mulai Rp 19.000 hingga Rp 25.000 per kotak.

Salah satu pembuat brownis tape adalah keluarga Supartiwi, yang mulai memproduksi makanan olahan dari tape singkong sejak 2001. Meski berbahan baku tape singkong, rasa prol dan brownis tape terbilang lezat. Legit campuran manis tape dan singkong terasa lembut di lidah.

“Semula saya coba-coba membuat prol tape. Karena kebetulan saudara juga membuat makanan ini. Apalagi, saat itu banyak orang mencari kue ini,” ujar Wiwik, panggilan akrabnya, saat ditemui di rumahnya, Jl Wijaya Kusuma, Jember.

Setelah lebih dari dua tahun memproduksi prol tape, ia mencoba panganan brownis tape. Olahan tape singkong yang dicampur dengan coklat. “Namanya saja brownis tentunya dari coklat, tetapi ada bedanya karena diimbuhi tape. Rasanya coklat dan tape,” jelasnya.

Wiwik dan suaminya, Zaky Zakaria, berangkat dari nol memproduksi dua makanan ini. Hingga saat ini, suami istri yang telah memiliki outlet makanan ini konsisten memproduksi keduanya, dengan tidak hanya memperhatikan rasa tetapi juga menomorsatukan penampilan kue. Untuk topping, Wiwik kadang menghias dengan keju, meses, kenari dan juga kismis.

“Awalnya, memang saya hanya buat skala kecil saja, yaitu enam kotak prol tape. Karena belum punya outlet, saya titipkan ke orang lain dan selalu habis. Rupanya banyak pembeli suka prol tape merek ‘Wika’ ini,” kata ibu empat anak ini.

Berkat usaha kerasnya, saat ini setidaknya ia mampu memproduksi 50 kotak prol tape dan 30 kotak brownies tape dalam sehari. Khusus pada hari libur, ia harus melipatgandakan produksinya.

“Kalau jumat, sabtu dan minggu, permintaan biasanya naik. Apalagi kalau ada libur panjang dan Lebaran,” imbuh Wiwik, yang mempekerjakan tiga orang untuk membantu usahanya. Tapi, pekerjanya otomatis akan bertambah saat permintaan naik jelang Lebaran

Meski usahanya berjalan lancar, toh Wiwik harus menghadapi tantangan baru. Karena belasan produsen prol dan brownis tape mulai bermunculan. Dalam dua tahun terakhir, produsen makanan ini kian menjamur.

“Menghadapi persaingan ini, saya berupaya mengembangkan pasar dan terus berinovasi. Tidak hanya membidik pasar Jember, namun juga mengirim produknya ke Situbondo. Alhamdullilah, di sana peminatnya juga banyak,” ungkap Wiwik, yang berharap mendapat pinjaman lunak untuk mengembangkan usahanya.

Suwar-suwir Aneka Rasa

Persaingan yang makin ketat juga diakui Durachim, produsen suwar-suwir merek Rama sejak 1985 silam. Meski ia tidak mempermasalahkan hal itu, namun kondisi ini praktis membuat penjualannya menurun.

“Memang makin banyak yang membuat manisan khas ini. Oleh karena itu, kita harus jeli melihat pasar,” ujar bapak delapan anak yang memproduksi suwar-suwir dengan empat rasa yakni, nanas, sirsak, durian dan coklat, pekan lalu.

Selama ini, ia membuat berbagai macam inovasi agar suwar-suwirnya tetap dilirik orang. Jika semula, suwar-suwir hanya berwarna krem polos. Seiring berjalannya waktu, manisan itu mulai diberi warna, hijau, coklat maupun merah.

Bukan hanya itu, bungkusnya juga dibuat semenarik mungkin. Durachim sekarang membungkus dalam dua jenis, pak berisi 3 ons dan bungkus plastik berisi setengah kilogram.

Sedangkan produsen suwar-suwir merek ‘96′ mempunyai terobosan lain untuk menggaet pembeli. Jika suwar-suwir umumnya berbentuk panjang seukuran jari kelingking, maka suwar-suwir merek ini berbentuk permen.

“Memang dibentuk kecil seperti permen dengan berbagai macam rasa, ada kopi, sirsak, nangka, dan kelapa muda,” ujar Neny, penjaga outlet oleh-oleh ‘96′. Terobosan bentuk yang beda tersebut bertujuan agar pembeli tertarik. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Menghias Untung dari Wadah Parcel

Ketertarikan konsumen terhadap parcel bukan terbatas hanya dari isi atau bagaimana pengemasannya. Kini, parcel tampil makin cantik berkat wadahnya. Alhasil, ragam wadah pun mulai diproduksi menggunakan bahan baku rotan, kawat, besi, hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Usaha yang paling menggiurkan menjelang Lebaran sekarang ini, salah satunya adalah bisnis yang berhubungan dengan parcel. Setiap memasuki bulan Ramadan, produk atau kerajinan tempat parcel menjadi jujugan mereka yang bergelut di usaha pengemasan parcel. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan tren, wadah parcel tak lagi konvensional, baik bahan maupun modelnya. Kini, wadah parcel kian beragam, mulai dari rotan, kombinasi rotan dan besi, besi atau kawat, box kardus hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Diana Sari, warga Ngagel Surabaya yang biasa menerima pesanan parcel mengaku, jauh sebelum bulan Ramadan ia telah berburu contoh-contoh wadah parcel yang akan ia tawarkan ke konsu...

Kuncinya, Inovasi dan Ide Baru

Ada gula ada semut. Ada peluang untuk mengeruk rezeki, pasti akan banyak yang terjun di dalamnya. Kondisi ini pula yang terjadi pada geliat usaha di sektor aksesori sepeda motor. Pasalnya, terdapat ratusan item yang bisa dimanfaatkan di pasar ini, meski tetap butuh ide kreatif. Ketua Himpunan Produsen Alat Mobil dan Motor Indonesia (Hipammi), Vincent Edi Jasin mengatakan, selama jumlah penjualan dan populasi sepeda motor di dalam negeri terus meningkat, pasar komponen serta aksesori yang mengikuti produk ini juga tetap menjanjikan. “Meski pasar stagnan, selama daya beli masyarakat selaku pemilik sepeda motor masih tinggi untuk memodifikasi dan mengubah tampilan motor, tentunya peluangnya tetap besar,” kata Vincent, Jumat (16/4). Diakuinya, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan dari produk sepeda motor itu, khususnya yang tidak dan belum dilakukan oleh produsen bersangkutan. Mulai dari komponen pengganti, serta modifikasi, hingga pernik-pernik yang diharapkan bisa memperindah ...

Tak Pernah Kelam Berkat Alam

Masyarakat kini lebih memilih barang-barang berbahan dasar alam untuk perabot, pernik-pernik, aksesori hingga hiasan. Ini tak lepas dari kandungannya yang relatif lebih aman, selain terlihat unik dan artistik. “Kami memang suka berburu barang-barang berbahan alami. Mulai barang-barang furnitur hingga hiasan rumah. Unik aja, apalagi kalau barang itu hanya diproduksi terbatas atau tak ada yang menyamai,” papar Indra Setya, salah seorang konsumen di Surabaya, Jumat (14/5). Supervisor salah satu diler mobil ini mengaku, tak pilih-pilih bahan alam apa yang ia sukai, asal cocok dan terlihat unik, ia pasti berusaha mendapatkannya. Beberapa lokasi di Surabaya menjadi langganan buruannya. Bahkan, tak jarang ia berburu ke sejumlah kota, seperti Jogjakarta, Bali, Jakarta, dan kota lainnya. “Berbeda rasanya ketika kita memasuki sebuah rumah atau ruang dengan banyak perabot berbahan alam, dengan ruang yang minim bahan alam. Lemari misalnya, beda banget ketika melihat lemari berbahan kayu jati...