Langsung ke konten utama

Menjala Laba Olahan Bandeng


Siapa yang tak suka ikan. Selain enak dimakan, hewan air ini memiliki kandungan gizi yang cukup banyak. Ikan juga bisa diolah menjadi beragam makanan. Demikian juga bandeng. Salah satu komoditas andalan Jatim ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk beragam menu dan jenis makanan.

Tak hanya itu, olahan bandeng juga mampu menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Ini karena konsumen atau penggemar olahan bandeng tak pernah sepi. Ny Iswindari misalnya, warga Pulosari, Surabaya ini, boleh dikata hampir setiap pekan selalu berburu makanan bandeng. Entah itu bandeng goreng atau diolah menjadi menu lain yang banyak dijajakan di sejumlah toko oleh-oleh di Sidoarjo dan Gresik.

“Keluarga saya memang penyuka bandeng. Tak jarang kami membeli olahan bandeng, seperti bandeng asap, bandeng presto, otak-otak bandeng atau lainnya,” ulas ibu dua anak ini.

Bahkan, ia sering menjadikan olahan bandeng ituuntuk oleh-oleh atau bekal makanan ketika pergi ke luar kota. “Praktis, dan bisa tahan hingga beberapa hari,” beber Iswindari.

Banyaknya konsumen memang tak lepas dari beragam ide kreatif pelaku usaha bandeng. Salah satu yang memanfaatkan olahan bandeng adalah Djalil. Bersama istrinya, Sutini, pria yang tinggal di Bulu Sidokare, Sidoarjo ini, sudah 20 tahun menggeluti usaha bandeng asap. Bandeng asap merupakan salah satu oleh-oleh khas Sidoarjo.

Disebut bandeng asap karena makanan ini dibuat dari ikan bandeng yang dimatangkan dengan cara diasap. Di rumah yang sekaligus dijadikan tempat produksi dan penjualan, rata-rata Djalil mampu memproduksi 60 ekor per hari. Jumlah itu biasanya langsung habis terjual, karena pria 60 tahun ini hanya memproduksi berdasar pesanan.

“Saya sengaja tak menyetok untuk penjualan, karena saya ingin bandeng asap saya terus fresh. Demikian juga banyak permintaan dari toko, namun saya tak mau kalau hanya sekadar konsinyasi. Meski hanya mengandalkan pesanan, Alhamdulillah ada saja permintaan setiap harinya,” papar pria yang memiliki 4 anak dan 4 cucu ini.

Untuk menjaga kualitas produk dan rasa, Djalil sengaja terjun sendiri mulai pemilihan ikan, pembersihan sisik dan insang hingga pengasapan. Ia pun belum berani mengangkat tenaga kerja.

Ukuran standar yang ia pilih biasanya bandeng mentah dengan berat 0,5-0,6 kilogram per ekor. Untuk pengasapan, ia sengaja membuat oven besar yang mampu dimasuki 50-60 bandeng secara menggantung. Di ujung oven diberi cerobong untuk jalan keluar asap. Pengasapan biasanya dilakukan selama 4-5 jam.

Djalil biasanya menjual bandeng asapnya dengan harga Rp 48.000 per kilogram. Ia juga menyertakan saos yang terbuat dari kecap dan petis. Pembeli bandeng asap olahan Djalil tak hanya dari Sidoarjo dan Surabaya saja, namun banyak juga dari luar kota dan luar pulau. Bahkan, sebagian adalah pesanan dari pelanggannya di Australia, China, hingga Singapura.

“Saya ingin terus mempertahankan usaha ini sebagai produk khas Sidoarjo. Untungnya keluarga juga mendukung, bahkan anak-anak mulai merintis beberapa kreasi produk kerupuk berbahan bandeng dan bahan lainnya,” jelas Djalil.

Selain olahan asap, bandeng juga dibuat kreasi yang lebih modern, yakni crispy. Sulaihan adalah sosok yang sukses mengenalkan olahan ini. Bahkan, produk bermerek ‘Maharani Crispy’ ini telah memiliki pelanggan dari berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Mojokerto, Nusa Tenggara, Bali, Balikpapan, bahkan Singapura.

“Sebagian besar pembeli memesan untuk oleh-oleh. Jadi saya sering mengantar pesanan ke bandara, sehingga bisa langsung dibawa,” kata Sulaihan, ditemui di rumah sekaligus tempat produksinya di Kalanganyar, Sedati.

Bandeng crispy tak beda dengan makanan crispy lain, seperti ayam crispy. Yang membedakan hanya bentuk, bumbu atau rasa, serta tingkat kerenyahannya. Keunggulan lainnya, bandeng crispy buatan pria 45 tahun ini tanpa duri.

“Duri bandeng harus dicabut dulu sebelum diolah. Memang usaha kita awalnya adalah memasok bandeng tanpa duri ke sejumlah restoran dan pabrik. Empat tahun belakangan ini mulai dikembangkan ke olahan,” ujar ayah dua anak ini.

Dibantu empat orang tenaga kerja, Sulaihan bersama istrinya Dwi Ernie, rata-rata mampu memproduksi sekitar 50 kilogram bandeng segar tanpa duri setiap hari. Tak hanya bandeng crispy, ia juga mengolah bandeng tanpa duri tersebut untuk beragam makanan mulai bandeng presto, otak-otak bandeng, penyet bandeng, hingga bakso bandeng.

Sisa duri tak dibuang begitu saja, namun ia manfaatkan dengan diolah sebagai abon. Produk abon duri bandeng yang ia namai abon kalsium ini memang murni kreasi ciptaannya dan belum ada pemain lain. “Kita memang ingin mengangkat citra bandeng sebagai makanan khas Sidoarjo agar memiliki nilai tambah,” ulas pemilik UD Hikmah Artha Makmur ini.

Bandeng crispy olahannya, biasanya dijual Rp 25.000 per ekor/bungkus, sedang otak-otak bandeng dijual seharga Rp 10.000-20.000 per bungkus.

Beragam produknya mulai dikenal luas sejak ia dilibatkan dalam berbagai pameran yang digelar oleh Dinas Kelautan dan Peternakan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim. Karena dianggap memiliki prospek pasar, ia pun mendapat kucuran kredit dari salah satu bank BUMN.

“Selain modal kerja, bantuan kredit itu untuk pengembangan usaha. Karena kami juga mengelola sebuah rumah makan di ruko Juanda Business Center,” ungkap Sulaihan.

Ke depan, ia berobsesi terus menciptakan berbagai produk dari bahan bandeng, selain memperluas jaringan pasar. “Ada investor yang men-support dan tahun ini juga kemungkinan kami membuka dua outlet di Surabaya,” imbuhnya. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Wadahi UKM Pemula

Tak sedikit pelaku usaha kerajinan yang dikenal kalangan luas setelah berani menjual produknya di pusat-pusat perbelanjaan. Tak sedikit pula masyarakat yang mendapatkan ide dari melihat atau membeli barang-barang yang ditawarkan UKM di mal. Nah, kepedulian pusat perbelanjaan inilah yang diwujudkan Royal Plaza Surabaya terhadap kreasi perajin di Jatim. Saat ini, paling tidak terdapat dua lantai di pusat perbelanjaan itu yang sebagian besar dipenuhi pelaku UKM. Manager Promosi Royal Plaza Surabaya Vicky Ratih mengatakan, sejak pusat perbelanjaan ini dioperasikan, pihaknya bertekad untuk mewadahi pelaku UKM agar produknya dikenal. “Awalnya memang kami bekerja sama dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Surabaya, mereka aktif memberi pelatihan dan menyewakan stan bagi UKM anggotanya,” papar Vicky. Tak disangka, produk yang dihasilkan UKM mendapat respon positif dari pengunjung. Banyak pihak pun berpendapat bahwa lokasi tersebut cukup potensial untuk memajang produk UK...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...