Langsung ke konten utama

Peluang Usaha Pembesaran Lele dengan Kolam Terpal

Peluang bisnis pembesaran lele dengan kolam terpal merupakan ide bisnis yang cukup menarik untuk kita pelajari. Usah pembesaran lele kolam terpal dibedakan menjadi tiga macam, yaitu kolam terpal diatas permukaan tanah (tidak perlu mengggali tanah), kolam terpal dibawah permukaan tanah (menggali tanah), kolam beton yang dilapisi terpal.

Kolam terpal dipilih sebagai alternatif untuk peluang bisnis pembesaran lele karena memberikan banyak keuntungan. Usaha ini membutuhkan biaya yang relatif murah dan dinilai lebih praktis, dapat dibuat sendiri karena tidak serumit kolam permanen yang terbuat dari beton. Keuntungan lainnya dari kolam terpal ini yaitu kolam mudah dibongkar pasang, sehingga bisa dipindah tempat jika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu kondisi air kolam juga lebih terkontrol kebersihannya.

Proses pembesaran lele menggunakan kolam terpal tidak berbeda dengan kolam permanen.

Berikut langkah – langkah yang harus diperhatikan pada proses pembesaran, setelah kolam terpal telah selesai dibuat :

1. Pemilihan bibit

Lebih baik gunakan bibit lele yang sudah bisa mengkonsumsi pellet F999 (pellet butiran) biasanya bibit umur 2 minggu yang berukuran 7 cm sampai 9 cm, agar lebih mudah perawatannya. Karena bibit yang terlalu kecil, masih mudah mati bila dipindahkan ke lingkungan yang baru. Untuk kolam terpal ukuran 2×3 meter bisa dimasukan bibit lele sebanyak 1000 ekor dengan ketinggian air 30 cm.

2. Pemberian pakan

Pakan utama untuk pembesaran lele adalah pelet (makanan pabrik), untuk umur 2 minggu menggunakan pelet F 999, kemudian menggunakan 781-2 untuk umur setelah 2 minggu hingga 2 bulan, serta 781 untuk umur setelah dua bulan hingga siap panen sekitar umur 3 bulan. Selain pelet, pakan yang dapat digunakan untuk mengurangi pengeluaran yaitu pakan tambahan berupa keong emas yang direbus, dedak halus, ampas rumah tangga, maupun ikan yang telah dihancurkan. Pemberian makan dilakukan sehari 3 kali, untuk malam hari berikan pakan lebih banyak karena pada malam hari nafsu makan lele lebih besar.

3. Pengairan kolam terpal
Untuk pengairan kolam terpal pada awal proses, kolam diisi 30 cm air dan didiamkan selama 1 minggu sebelum dimasukan bibit lele. Penambahan air dilakukan dari mulai 30 cm hingga 80 cm, penambahan secara bertahap sebanyak 15 cm setiap bulannya. Sedangkan untuk pergantian air sampai umur dua bulan sebanyak 2 kali, namun jika sudah terlihat kotor bisa diganti airnya agar tidak menimbulkan penyakit pada lele. Pada saat pergantian air, lakukan penyortiran pula pada lele. Pisahkan lele yang pertumbuhannya lebih cepat, dengan lele yang masih kecil. Hal ini untuk menghindari penuhnya kolam karena sudah banyak yang lebih lebasr, dan menghindari kesempatan lele besar yang memakan lele kecil.

4. Pemanenan

Lele dapat dipanen setelah 3 bulan, biasanya lele yang diminati pasaran yaitu lele ukuran 5 sampai 10 ekor / kg atau sesuai dengan permintaan pasar. Pada kolam terpal, panen lele dapat dilakukan bersamaan dengan proses sortir.


5. Analisa Ekonomi
Dengan asumsi penggunaan 3 kolam terpal dengan ukuran 2 x 3 meter,
dan bibit lele 1000 ekor/kolam.

Modal Awal
3 buah terpal ukuran 2 x 3 meter (@ Rp 150.000,00 x 3) : Rp 450.000,00
Peralatan tiang kolam  (bambu, kayu tiang, dan paku)   : Rp 300.000,00
Selang air 20 meter                                    : Rp  50.000,00
Ember /baskom besar 3 buah                             : Rp  30.000,00 +
Total                                                    Rp 830.000,00

Biaya Operasional 
Bibit lele (@ Rp 350,00 x 3000 ekor)                   : Rp 1.050.000,00
Pakan                                                  : Rp   600.000,00
Biaya transport                                        : Rp   100.000,00
Biaya lain – lain                                      : Rp    50.000,00 +
Total                                                  : Rp 1.800.000,00

Omset
Penjualan hasil panen (Rp 11.000,00/kg  x 300 kg)      = Rp 3.300.000,00

Laba bersih 
Rp 3.300.000,00 – Rp 1.800.000,00                      = Rp 1.500.000,00
Sumber : http://bisnisukm.com/peluang-bisnis-pembesaran-lele-dengan-kolam-terpal.html

Postingan populer dari blog ini

Agar Dikenal, Mesti Aktif Pertemuan Bisnis

Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar. Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan. “Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7). Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tid...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...