Langsung ke konten utama

Omzet Desain Web Tak Pernah Surut


Pertumbuhan industri web design sebagai salah satu model industri kreatif yang semakin menggurita menjadikannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Mengusung inovasi dan kreativitas membangun ide, industri yang rata-rata digawangi anak-anak muda ini mampu meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Saat ini ada sekitar ratusan pengelola bisnis website design bermunculan. Ada yang benar-benar dikelola secara profesional dan ada pula yang setengah hati. Kliennya pun beragam, mulai perusahaan skala mikro, menengah hingga perorangan. Tarif yang dipatok juga beragam tergantung tingkat kerumitan dan tempo pengelolaan.

Pemilik PT Otak Kanan, salah satu web designer di kawasan Klampis Ngasem Surabaya, M Santoso Putra, bisnis mendesain website dijamin tak ada surutnya.

“Penetrasi internet gila-gilaan. User-nya perlahan naik, tapi masih sangat sedikit. Ini artinya, potensi pasar yang bisa digarap masih terbuka lebar,” jelas alumnus Fisika MIPA ITS ini, Kamis (24/6).

Jika di luar negeri market-nya hampir jenuh, lain halnya di Indonesia yang baru beranjak. “Saingan memang banyak tapi potensinya tidak kalah besar, tergantung bagaimana kita menggali ceruk pasar dan menawarkan inovasi,” yakin Santoso.

Klien tetapnya tercatat sekitar 208 perusahaan maupun perorangan. Profit yang bisa dikantongi per bulan minimal Rp 25 juta. Usaha ini dikelola Santoso bersama delapan rekannya yang tergabung dalam tim kreatif.

Menurutnya, siapapun bisa mendirikan usaha semacam ini kalau punya keahlian. Ongkos yang dipatok beragam, mulai Rp 500.000 untuk skala industri mikro hingga Rp 2,5 jutaan untuk skala perusahaan menengah (misal menggarap web company profile). Untuk perpanjangan maintenance dikenakan biaya Rp 500.000.

“Untuk menyikapi persaingan, kita punya website khusus yang menampung ide-ide kreatif dari masyarakat dan mahasiswa. Kita ajak mereka bermitra dengan imbalan khusus. Penggalian ide juga berasal dari sini,” ujar kelahiran Mojokerto 3 Mei 1981 ini.

Ke depan, ia berharap bisa melakukan ekspansi di bidang multimedia. “Sekaligus menawarkan hak waralaba tapi khusus pemasaran saja, sifatnya BO (business opportunity),” sambung Santoso.

Salah satu konsumen, Rizki Rahmadianti, pemilik www.rumahjilbabananda.com mengakui, pemasaran produk via internet sangat membantu.

“Order pertama kali produk jilbab saya kan dari online. Saya betul-betul tidak menyangka, waktu itu sekitar 2003 langsung ada order dari Jakarta. Orang yang tidak saya kenal tapi langsung pesan 200 unit dengan pembayaran transfer uang di depan,” aku wanita 33 tahun ini.

Saat itu, urusan web design dipercayakan pada teman adiknya. “Bikin desainnya tidak mahal kok, tidak sampai Rp 500.000. Beli hosting-nya juga murah. Jika desain bagus, foto menarik dan eye catching, dijamin orderan lancar. Sebab promosi online masih mengandalkan visual,” pungkas Rizki.

Pemilik DheZign Online Brian Arfi Faridhi manambahkan, jika potensi menggarap bisnis semacam ini sangat terbuka. “Ibarat fashion yang nggak ada matinya. Industri apa saja, omzetnya boleh naik turun tapi industri web design pasti jalan terus. Ini karena kecenderungan masyarakat saat ini mengarah ke urban dan computerize minded,” katanya.

Lihat saja 10 tahun ke depan, masyarakat Indonesia akan didominasi masyarakat digital. Internet akan sangat melekat dengan kehidupan sehari-hari. “Mobilitas akan tinggi dan orang butuh kemudahan memperoleh informasi. Secara otomatis, pertumbuhan bisnis mendesain website akan ikut naik,” yakin mahasiswa Teknik Industri ITS ini.

Modal awal membangun bisnis ini, menurut Brian, cuma satu unit komputer, printer dan kemauan. “Kalau skill sudah punya secara otodidak dibantu istri saya. Tinggal marketing saja dari mulut ke mulut dan internet,” ujar pria 24 tahun yang pernah menyabet penghargaan Wirausaha Muda Mandiri ini.

Omzetnya kini minimal Rp 30 juta per bulan, ia gunakan untuk mengembangkan jaringan dan menggaji karyawan. “Agar bisnis semakin kuat dan persaingan semakin sehat, idealnya kita punya asosiasi. Sayangnya sekarang belum ada,” kata Brian.

Penggarapannya saat ini sangat sporadis. Bisnis web design nantinya akan tersegmentasi. Kalau jumlah pelakunya sangat banyak pasti akan terjadi konvergensi.

“Jadi, siapapun yang berniat menekuni usaha ini tidak perlu ragu. Boleh coba-coba desain dulu tanpa dikomersialkan, nanti kalau tampilannya sudah oke baru cari klien dan dipasarkan secara luas,” tegasnya.

Postingan populer dari blog ini

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Wadahi UKM Pemula

Tak sedikit pelaku usaha kerajinan yang dikenal kalangan luas setelah berani menjual produknya di pusat-pusat perbelanjaan. Tak sedikit pula masyarakat yang mendapatkan ide dari melihat atau membeli barang-barang yang ditawarkan UKM di mal. Nah, kepedulian pusat perbelanjaan inilah yang diwujudkan Royal Plaza Surabaya terhadap kreasi perajin di Jatim. Saat ini, paling tidak terdapat dua lantai di pusat perbelanjaan itu yang sebagian besar dipenuhi pelaku UKM. Manager Promosi Royal Plaza Surabaya Vicky Ratih mengatakan, sejak pusat perbelanjaan ini dioperasikan, pihaknya bertekad untuk mewadahi pelaku UKM agar produknya dikenal. “Awalnya memang kami bekerja sama dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Surabaya, mereka aktif memberi pelatihan dan menyewakan stan bagi UKM anggotanya,” papar Vicky. Tak disangka, produk yang dihasilkan UKM mendapat respon positif dari pengunjung. Banyak pihak pun berpendapat bahwa lokasi tersebut cukup potensial untuk memajang produk UK...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...