Langsung ke konten utama

Laba Aksesoris Bros Kian Bersinar


Memakai aksesoris selain untuk melengkapi tampilan busana, juga bisa membuat sebagian orang lebih nyaman. Namun, memilih aksesoris yang sesuai agar bisa tampil berkesan tentu membutuhkan pertimbangan. Untuk aksesoris bros misalnya, meski bentuknya mungil tapi bisa menjadi finishing touch dari dandanan.

Saat ini, ada banyak aneka model bros cantik beredar di pasar. Bukan hanya bros buatan lokal, tapi juga bros impor. Bahan bakunya pun bervariasi mulai dari manik-manik, batuan, perak hingga emas.

“Saya paling suka bros dari bahan perak bakar. Kesannya etnik dan karakternya strong. Warnanya tidak terlalu ramai, sehingga bisa dipadu-padankan dengan banyak pakaian,” kata Retno Palupi, karyawati perusahaan pelayaran.

Lajang 29 tahun ini mengaku memiliki puluhan koleksi bros yang ia beli dari berbagai kota. “Setiap ke luar kota selalu berburu bros. Kisaran harganya per unit nggak mahal kok, rata-rata Rp 20.000-50.000. Sering juga belanja online atau lewat facebook,” ujar Palupi.

Sekali borong bisa sampai Rp 500.000. Ia mengoleksi aneka bros mulai dari bahan perak, kuningan, kayu, plastik, pita, batu, manik-manik. “Sebagian besar beli sendiri, sebagian lagi ada yang dikasih teman dan saudara,” lanjutnya.

Bagi Dewi Rosalina, salah satu perajin aksesoris, penjualan bros tak pernah mengenal musim. “Segmen aksesoris itu loyal. Apalagi yang bahannya dari bebatuan. Kalau penyuka batu pasti belinya ya batu terus, kalau perak ya perak terus biasanya,” katanya.

Wanita kelahiran Balikpapan 5 Mei 1976 ini mengaku, aksesori macam bros, kalung, gelang yang ia jual selama ini didesain dan dirangkai sendiri. “Khusus bahan bakunya disuplai orang,” ujar wanita yang telah membuka butik aksesoris DeRosa di Royal Plaza Lantai LG ini.

Selain merangkai berbagai aksesoris, ibu satu anak ini juga menjual bahan baku hingga alat-alat pembuat aksesoris di Royal Plaza. “Saya juga membuka kursus kilat merangkai aksesoris. Workshop aksesoris sering saya gelar juga. Peminatnya ternyata lumayan banyak. Dalam seminggu bisa 50 orang daftar kursus,” kata Dewi.

Untuk paket kursus yang ia tawarkan mulai Rp 150.000, tidak termasuk bahan baku aksesoris. “Kalau aksesoris bros yang saya jual segmennya high-end, lebih banyak ke bebatuan berkualitas A. Karena itu, harganya bisa mulai Rp 100.000,” terangnya.

Ia mengakui, harga aksesoris buatannya memang tak murah. Ini karena mengandalkan desain yang unik dan jenis bebatuan yang langka. “Dilihat dari karakter warga Surabaya ini, rupanya kurang minat terhadap harga, mereka maunya pokok murah. Beda dengan karakter warga Jakarta, kalau aksesoris harga ratusan ribu udah kaya kacang goreng penjualannya,” urai Dewi.

Modal awal ia menjalankan usahanya tak kurang dari Rp 10 juta. “Pasar aksesoris sudah mulai padat. Kalau kita bidik segmen yang pas memang modalnya harus kuat. Saat ini porsi penjualan saya lebih banyak ke kursus dan suplai bahan baku. Pembuatan aksesoris malah mulai berkurang dan mengandalkan order,” lanjutnya.

Untuk memperluas pemasaran produknya, Dewi bermitra dengan beberapa pihak. “Kalau cuma jual barang gampang. Pelanggan tetap kita sudah cukup banyak. Kita sudah bermitra dengan pihak di PTC dan Sun City,” imbuhnya.

Setelah usahanya berkembang luas, pihak perbankan pun akhirnya banyak yang melirik. “Untuk pengembangan usaha, saya dipinjami mulai Rp 100 juta, lalu naik jadi Rp 200 juta,” kata Dewi.

Perajin aksesoris lainnya Lilies Rolina mengungkapkan, pasar aksesoris masih terbuka lebar, meski saat ini perhiasan impor mulai membanjir dengan harga yang jauh lebih murah. “Karena itu, aksesoris buatan lokal kalau tak punya karakter bakal ditinggal pelanggan,” lanjut pemilik butik Liena Accesories di kawasan Candi Lontar ini.

Ia mengaku, awal berjualan aksesoris bros lebih didorong oleh hobi. “Iseng-iseng saya beli pas jalan-jalan di Solo, lalu saya posting foto-fotonya di facebook, eh ternyata banyak yang minat. Akhirnya saya hunting aksesoris yang murah lalu saya jual ke teman-teman,” kata lajang 26 tahun ini.

Setelah beberapa bulan berjualan, ia menjajal merangkai sendiri dengan mencontoh model di internet dan di beberapa butik. “Sampai saat ini selain menjual aksesoris bros rangkaian sendiri, saya juga berjualan aksesoris impor Korea dan China. Yang banyak diminta tipe jurai-jurai dari bahan manik-manik yang blink-blink,” sambung Lilies.

Menurutnya, orderan terbanyak melalui facebook berasal dari Jakarta dan Jawa Tengah. “Sekali order bisa 2-3 lusin, karena ternyata mereka jual lagi,” katanya.

Harga aksesorisnya beragam, untuk bros mulai Rp 15.000. Bisnis aksesoris dinilai memiliki potensi cukup bagus. “Siapapun bisa melalukan. Tergantung segmen mana yang dibidik, pasti omzet yang datang akan lumayan,” lanjutnya.

Modal awal ia membuka usaha sekitar 1,5 tahun lalu hanya Rp 500.000. “Modal itu diputar dan kini omzetnya bisa Rp 1 jutaan per minggu kalau pas ramai,” pungkas Lilies. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Menghias Untung dari Wadah Parcel

Ketertarikan konsumen terhadap parcel bukan terbatas hanya dari isi atau bagaimana pengemasannya. Kini, parcel tampil makin cantik berkat wadahnya. Alhasil, ragam wadah pun mulai diproduksi menggunakan bahan baku rotan, kawat, besi, hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Usaha yang paling menggiurkan menjelang Lebaran sekarang ini, salah satunya adalah bisnis yang berhubungan dengan parcel. Setiap memasuki bulan Ramadan, produk atau kerajinan tempat parcel menjadi jujugan mereka yang bergelut di usaha pengemasan parcel. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan tren, wadah parcel tak lagi konvensional, baik bahan maupun modelnya. Kini, wadah parcel kian beragam, mulai dari rotan, kombinasi rotan dan besi, besi atau kawat, box kardus hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Diana Sari, warga Ngagel Surabaya yang biasa menerima pesanan parcel mengaku, jauh sebelum bulan Ramadan ia telah berburu contoh-contoh wadah parcel yang akan ia tawarkan ke konsu...

Kuncinya, Inovasi dan Ide Baru

Ada gula ada semut. Ada peluang untuk mengeruk rezeki, pasti akan banyak yang terjun di dalamnya. Kondisi ini pula yang terjadi pada geliat usaha di sektor aksesori sepeda motor. Pasalnya, terdapat ratusan item yang bisa dimanfaatkan di pasar ini, meski tetap butuh ide kreatif. Ketua Himpunan Produsen Alat Mobil dan Motor Indonesia (Hipammi), Vincent Edi Jasin mengatakan, selama jumlah penjualan dan populasi sepeda motor di dalam negeri terus meningkat, pasar komponen serta aksesori yang mengikuti produk ini juga tetap menjanjikan. “Meski pasar stagnan, selama daya beli masyarakat selaku pemilik sepeda motor masih tinggi untuk memodifikasi dan mengubah tampilan motor, tentunya peluangnya tetap besar,” kata Vincent, Jumat (16/4). Diakuinya, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan dari produk sepeda motor itu, khususnya yang tidak dan belum dilakukan oleh produsen bersangkutan. Mulai dari komponen pengganti, serta modifikasi, hingga pernik-pernik yang diharapkan bisa memperindah ...

Tak Pernah Kelam Berkat Alam

Masyarakat kini lebih memilih barang-barang berbahan dasar alam untuk perabot, pernik-pernik, aksesori hingga hiasan. Ini tak lepas dari kandungannya yang relatif lebih aman, selain terlihat unik dan artistik. “Kami memang suka berburu barang-barang berbahan alami. Mulai barang-barang furnitur hingga hiasan rumah. Unik aja, apalagi kalau barang itu hanya diproduksi terbatas atau tak ada yang menyamai,” papar Indra Setya, salah seorang konsumen di Surabaya, Jumat (14/5). Supervisor salah satu diler mobil ini mengaku, tak pilih-pilih bahan alam apa yang ia sukai, asal cocok dan terlihat unik, ia pasti berusaha mendapatkannya. Beberapa lokasi di Surabaya menjadi langganan buruannya. Bahkan, tak jarang ia berburu ke sejumlah kota, seperti Jogjakarta, Bali, Jakarta, dan kota lainnya. “Berbeda rasanya ketika kita memasuki sebuah rumah atau ruang dengan banyak perabot berbahan alam, dengan ruang yang minim bahan alam. Lemari misalnya, beda banget ketika melihat lemari berbahan kayu jati...