Langsung ke konten utama

AKSES, Bahan Baku Mudah dan Murah

Mebel berbahan dasar kayu diyakini akan terus menggeser tren furnitur berbahan rotan. Ini dikarenakan bahan baku rotan yang terus tergerus. Ketua Forda UKM Jatim Nur Cahyudi optimistis pasar furnitur di Indonesia masih cukup bagus, meski pertumbuhannya agak lambat.

“Pertumbuhannya memang tertinggal dengan negara-negara tetangga. Mereka bisa mendapatkan bahan baku sangat murah, padahal ambil bahan bakunya juga dari Indonesia. Herannya kenapa para pelaku usaha mebel di Indonesia malah kesulitan,” katanya.

Menurut Nur, ini karena regulasi di Indonesia yang belum berpihak kepada pelaku industri furnitur. Bahan baku rotan dunia 80 persen ada di Indonesia. Tetapi, mengapa penghasil rotan malah terpuruk?

“Regulasi buka tutup ekspor bahan baku harus dikaji.

Sekarang ini kran ekspor rotan mentah tidak ada yang mengawasi, akibatnya rotan mentah diekspor besar-besaran. Pengusaha mengambil marjin hasil penjualan ekspor semaunya. Pelaku industri furnitur yang kebingungan,” jelas Nur.

Rencana pembangunan terminal kayu di Benowo diharapkan tidak sekadar menjadi isapan jempol, mengingat wacana ini sudah diembuskan sejak 2000. “Harusnya direalisasi sejak dulu. Nantinya, pelaku usaha bisa mendapatkan bahan baku dengan mudah dan murah, berbeda dengan sekarang yang harus melalui mata rantai yang panjang dengan ongkos pungli yang tidak murah,” ujarnya.

Nur mengungkapkan, keberadaan terminal kayu ini tidak hanya memudahkan perajin, tetapi juga sekaligus bisa mengontrol harga,” kata dia.

Suplier bahan baku furnitur, seperti kayu dan rotan, bisa menjual melalui terminal kayu secara terorganisir dan berkesinambungan, kemudian para pembeli atau pengusaha furnitur bisa langsung mendapatkan bahan baku di terminal kayu tanpa membayar bermacam-macam pungli.

“Banyak pengusaha mulai meninggalkan industri rotan dan beralih ke kayu. Disamping itu semakin bermunculan bahan baku rotan plastik. Industri rotan jika dibiarkan akan mati,” pungkasnya. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...