Langsung ke konten utama

Berbisnislah dengan Tawa

Judul di atas seolah menunjukkan sebuah bisnis penuh dengan kesenangan, keceriaan dan keadaan yang serba mengenakkan. Bukan itu maksudnya. Tawa dimaksud adalah tiga H (baca ha, ha, ha) agar dapat menjalankan bisnis dengan baik.

Seorang pengusaha harus mengelola ketiganya secara sinergis sehingga dapat menutupi kelemahan dan menunjang kekuatan masing-masing. Tiga fungsi tersebut, antara lain :

Pertama, penggunaan otak kiri dan kanan secara berimbang (Head). Keseimbangan ini penting agar dapat berjalan secara sinergis antara keteraturan dengan keberanian mengambil keputusan. Otak kiri, identik dengan pemikiran kehidupan yang serba teratur tanpa banyak perubahan. Menjadi karyawan adalah bagian dari penggunaan otak kiri. Bangun tidur, mandi, bekerja, istirahat bersama keluarga, tidur dan bangun pagi lagi untuk melakukan aktifitas yang sama. Jika terlalu mengandalkan ini, kehidupan jadi monoton. Sementara otak kanan lebih mengarah pada keberanian dan kehidupan yang lebih dinamis. Menjadi wirausaha adalah bagian dari keberanian mengambil risiko. Dunia bisnis, penuh dengan upaya untuk memenangkan persaingan agar usaha dapat terus eksis.

Tetapi jangan terlalu kanan, agar tak lepas kontrol. Di samping keberanian, juga harus dibarengi keteraturan manajemen dan profesionalisme usaha. Harus juga dibarengi kemampuan bekerja sama antar pengusaha untuk mengembangkan jaringan.

Sumber : http://www.surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...