Langsung ke konten utama

Dari Susah Cari Modal, Sekarang Banjir Pinjaman

Bisnis kerajinan berbahan dasar kayu bisa jadi merupakan bisnis yang tak lekang oleh zaman. Kerajinan kayu memiliki segmen pasar yang cukup loyal. Inovasi dan keunikannya juga membuat produk kerajinan ini tetap diakui pasar.

Bagi Sumarwan alias Linggo, menekuni bisnis kerajinan kayu berawal dari kegemarannya melancong ke Bali. Dari sanalah ia terinspirasi untuk belajar ilmu mengolah kerajinan kayu.

“Awalnya cuma bikin cincin kayu, lalu gelang kayu, kemudian berkembang membuat wadah-wadah multifungsi dari kayu, serta aneka hiasan dari kayu,” ujar pria kelahiran Situbondo 36 tahun lalu, ditemui di sela Pameran Aneka Kerajinan Garmen dan Produk Kulit di Gramedia Expo, Kamis (26/8).

Biasanya, ide baru muncul setelah melihat bentuk kayu mentahnya. “Baru bisa diproses kalau sudah melihat model kayunya. Sebab tidak semua kayu cocok untuk dibuat cincin atau gelang atau wadah-wadah itu,” jelas bapak satu anak ini.

Khusus untuk wadah kayu biasanya dibuat dari kayu jati, ada pula yang dibikin dari kayu kelapa. “Ide biasanya muncul spontan. Kadang saya nyari dari internet, lalu saya terapkan di produk-produk,” paparnya.

Linggo, perajin yang memiliki galeri Mentari di Situbondo ini memulai bisnis kerajinan kayunya sejak 1996. Modal awalnya dulu cuma Rp 2 juta, kini omzetnya mencapai Rp 200 juta per bulan.

“Semunya melalui proses yang panjang, tidak instan. Jatuh bangun karena ditipu dan usaha nyaris gagal pun pernah saya lalui. Tapi saya yakin, bisnis ini potensi market-nya masih sangat besar. Terbukti, orderan saya tidak pernah berhenti,” ujarnya meyakinkan.

Linggo kini sudah memasarkan produk kerajinannya ke berbagai kota antara lain, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, Jakarta hingga Ambon. Wadah kayu multifungsinya tidak hanya untuk pajangan dan aksesoris, melainkan juga bisa sebagai wadah makanan.

“Dulu cari modal susah, tapi setelah usaha berkembang banyak pihak yang tertarik memberi pinjaman, mulai BUMN sampai perbankan. PTPN, Semen Gresik dan PLN di antaranya yang pernah mengucuri pinjaman bunga lunak dari dana PKBL sebesar Rp 15 juta. Tenornya cuma setahun, bunganya hampir tidak ada karena sangat kecil,” jelas Linggo.

Saat ini, Linggo memiliki 40 karyawan lepas yang siap membantu memenuhi orderannya. Tapi, kalau orderan melimpah tentu jumlahnya lebih banyak lagi.

“Ini karena saya bedakan antara karyawan yang bagian motong, bagian ngamplas, ngukir, dan ngecat. Mereka punya keahlian sendiri-sendiri dan garapan bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Itung-itung ikut mengkaryakan warga di kampung,” ujarnya sumringah.

Sayang, promosinya selama ini masih dilakukan secara manual, antarteman, kenalan dan melalui pameran. “Nantinya akan saya bikin website sendiri agar pemasarannya lebih luas. Namun tentunya saya juga harus memikirkan ketersediaan bahan bakunya. Kalau demand sudah tinggi, stok bahan baku tidak ada kan sayang juga,” kata Linggo.

Produk yang ia jual rata-rata harganya cukup terjangkau. Untuk wadah kayu biasa dijual Rp 30.000-40.000, untuk wadah kayu jati Rp 30.000-50.000, wadah kayu ukir Rp 75.000, telur hias dari kayu Rp 20.000, aneka gelang kayu Rp 3.000-20.000. “Tapi kalau belinya grosir tentu harganya akan lebih murah,” ucapnya.

Penjualan produk kerajinan kayu ini, diakuinya, tak banyak terpengaruh dengan dibukanya kran perdagangan bebas ACFTA. “Penggemar kerajinan kayu orang-orangnya cukup loyal. Meskipun ada sebagian orang Indonesia yang luar negeri minded, tapi jangan salah bahwa turis-turis asing juga sangat menyukai produk kerajinan kita. Sekali borong, jumlahnya sangat besar,” pungkas Linggo.

Postingan populer dari blog ini

Menghias Untung dari Wadah Parcel

Ketertarikan konsumen terhadap parcel bukan terbatas hanya dari isi atau bagaimana pengemasannya. Kini, parcel tampil makin cantik berkat wadahnya. Alhasil, ragam wadah pun mulai diproduksi menggunakan bahan baku rotan, kawat, besi, hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Usaha yang paling menggiurkan menjelang Lebaran sekarang ini, salah satunya adalah bisnis yang berhubungan dengan parcel. Setiap memasuki bulan Ramadan, produk atau kerajinan tempat parcel menjadi jujugan mereka yang bergelut di usaha pengemasan parcel. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan tren, wadah parcel tak lagi konvensional, baik bahan maupun modelnya. Kini, wadah parcel kian beragam, mulai dari rotan, kombinasi rotan dan besi, besi atau kawat, box kardus hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Diana Sari, warga Ngagel Surabaya yang biasa menerima pesanan parcel mengaku, jauh sebelum bulan Ramadan ia telah berburu contoh-contoh wadah parcel yang akan ia tawarkan ke konsu...

Kuncinya, Inovasi dan Ide Baru

Ada gula ada semut. Ada peluang untuk mengeruk rezeki, pasti akan banyak yang terjun di dalamnya. Kondisi ini pula yang terjadi pada geliat usaha di sektor aksesori sepeda motor. Pasalnya, terdapat ratusan item yang bisa dimanfaatkan di pasar ini, meski tetap butuh ide kreatif. Ketua Himpunan Produsen Alat Mobil dan Motor Indonesia (Hipammi), Vincent Edi Jasin mengatakan, selama jumlah penjualan dan populasi sepeda motor di dalam negeri terus meningkat, pasar komponen serta aksesori yang mengikuti produk ini juga tetap menjanjikan. “Meski pasar stagnan, selama daya beli masyarakat selaku pemilik sepeda motor masih tinggi untuk memodifikasi dan mengubah tampilan motor, tentunya peluangnya tetap besar,” kata Vincent, Jumat (16/4). Diakuinya, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan dari produk sepeda motor itu, khususnya yang tidak dan belum dilakukan oleh produsen bersangkutan. Mulai dari komponen pengganti, serta modifikasi, hingga pernik-pernik yang diharapkan bisa memperindah ...

Tak Pernah Kelam Berkat Alam

Masyarakat kini lebih memilih barang-barang berbahan dasar alam untuk perabot, pernik-pernik, aksesori hingga hiasan. Ini tak lepas dari kandungannya yang relatif lebih aman, selain terlihat unik dan artistik. “Kami memang suka berburu barang-barang berbahan alami. Mulai barang-barang furnitur hingga hiasan rumah. Unik aja, apalagi kalau barang itu hanya diproduksi terbatas atau tak ada yang menyamai,” papar Indra Setya, salah seorang konsumen di Surabaya, Jumat (14/5). Supervisor salah satu diler mobil ini mengaku, tak pilih-pilih bahan alam apa yang ia sukai, asal cocok dan terlihat unik, ia pasti berusaha mendapatkannya. Beberapa lokasi di Surabaya menjadi langganan buruannya. Bahkan, tak jarang ia berburu ke sejumlah kota, seperti Jogjakarta, Bali, Jakarta, dan kota lainnya. “Berbeda rasanya ketika kita memasuki sebuah rumah atau ruang dengan banyak perabot berbahan alam, dengan ruang yang minim bahan alam. Lemari misalnya, beda banget ketika melihat lemari berbahan kayu jati...