Langsung ke konten utama

Menghirup Laba Wangi Aromaterapi


Konsep ‘back to nature’ benar-benar menyihir minat konsumen terhadap produk-produk aromaterapi dan perawatan kecantikan tradisional. Kini, kebutuhan akan produk herbal ini terus bertumbuh Kenyataan ini membuka peluang pasar bagi pelaku usaha di bisnis ini.

Pelaku bisnis aromaterapi, Anita Trisusilowati dan Puspitarini Winanti, mengakui tingginya minat konsumen terhadap produk wewangian ini. Tentu kondisi ini tidak akan dilepas begitu saja. Bagi mereka, ini saat tepat untuk menawarkan sesuatu yang beda dan memberi nilai lebih pada produknya.

Karena itu, wajar jika saat ini cukup mudah mendapatkan produk aromaterapi dalam berbagai jenis, model dan aromanya. Mulai gerai-gerai di pusat perbelanjaan, salon-salon kecantikan hingga spa atau pusat perawatan tubuh, menyediakan produk-produk ini. Pembelinya pun terus meningkat dan berasal dari beragam segmen dan usia.

Erni Widyaningrum, misalnya. Wanita 40 tahun ini selalu mengisi udara di rumahnya dengan keharuman aromaterapi. Ia mengaku sangat menyukai aroma lavender ketika malam hari dan green tea, ketika siang atau sore hari.

“Dengan aromaterapi, seakan pikiran jadi tenang dan bisa melepas kepenatan setelah seharian bekerja, apalagi yang dari bahan alami. Suami dan anak-anak juga menyukai. Kami biasanya menggunakan jenis minyak yang dipanasi dengan lilin atau dengan listrik,” urai Erni, yang terus keranjingan memburu produk wewangian ini.

Berkah wewangian aromaterapi pula yang membuat Anita, 37, menggeluti usaha ini. Bisnis coba-coba sejak 2003 itu membawanya menjadi ahli peramu wewangian.

“Ada dua jenis aromaterapi yang ada di pasar, yakni dihirup dan dioles. Kalau dioles cara kerjanya melalui pembuluh kulit dan masuk ke syaraf. Intinya, efek aromaterapi mengubah pikiran dan perasaan seseorang menjadi lebih tenang, konsentrasi, bahkan menyembuhkan beragam penyakit,” urai Anita, ditemui di rumah sekaligus workshop-nya di kawasan Gubeng Kertajaya XIII Surabaya.

Menurutnya, jika dengan wewangian itu belum mampu membuat pikiran tenang, ia mempertanyakan bahan aromaterapi yang digunakan. Ini sangat penting, karena penggunaan bahan kimia justru bisa berdampak negatif. “Karena itu saya konsisten menggunakan bahan alami dari saripati tumbuh-tumbuhan atau bunga-bungaan,” ucapnya.

Produk aromaterapi merek Cakra kini sudah mencapai 50 item. Seperti lilin, minyak aromaterapi, beragam dupa, sabun rempah, lulur, serta produk perawatan kecantikan lainnya. Aromanya juga terus bertambah, di antaranya lavender, green tea, jasmine, cendana, romantic, ylang-ylang, kenanga.

Semula, ibu satu anak ini tidak menyangka bisnis aromaterapi yang dijalaninya bisa mendatangkan keuntungan menjanjikan. Padahal, ia merintis usaha ini hanya dengan modal Rp 5 juta-an.

Saat ini, konsumen tidak terbatas dari kalangan berumur, tetapi juga usia remaja. Umur yang berbeda memberikan dampak terhadap selera aromaterapi. “Remaja lebih suka yang fresh seperti floral, sedang mereka yang berumur tertarik dengan aroma wangi cukup menyengat,” jelas Anita.

Agar menjangkau seluruh kalangan, ia membuat variasi harga produk antara Rp 5.000 per item hingga Rp 200.000-300.000 per item. “Paket pernikahan lengkap juga ada,” kata Anita yang mengaku pernah menjadi mitra binaan beberapa perusahaan BUMN.

Dibantu sekitar 5 tenaga kerja, rata-rata ia mampu memproduksi 1.000 piece per item per bulan. Pasarnya 80 persen untuk lokal, seperti Jakarta, Palembang, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Bali, Lombok, Kupang, Jogjakarta dan Jatim. Untuk pasar ekspor, produknya telah menembus Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada.

Meski terbilang telah dikenal, toh Anita terus menciptakan aroma-aroma baru. Untuk meyakini ramuannya bisa diterima pasar, ia pun memakai sendiri wewangian itu. “Tak jarang orang yang saya temui tertarik dengan aromanya. Di sinilah teknik marketing saya, selain aktif pameran,” tandasnya.

Pasar aromaterapi yang cukup potensial dan belum tergarap optimal, juga dimanfaatkan Puspitarini Winanti, warga Porong, Sidoarjo. Kesibukannya sebagai pengajar di salah satu SMP negeri di Gempol, Pasuruan, tak menyurutkan tekadnya merintis usaha pembuatan lilin aromaterapi.

“Di sekitar tempat tinggal saya, belum ada pelaku usaha di bidang ini. Karena itu saya coba-coba menekuni, dengan mengikuti pelatihan pembuatan aromaterapi,” jelas Puspita.

Karena terbilang baru, wanita 43 tahun ini rela mengerjakan sendiri pembuatan lilin aromaterapi yang ia buat dari bahan stearic acid dan glister. Tentu, ia harus pandai-pandai mengatur waktu sepulang kegiatannya mengajar.

Setelah membeli bahan lilin dan tempat gelas yang ia beli dari Surabaya, Puspita mulai meracik bahan. Sore mencetak, pagi harinya produk siap dipasarkan. “Paling sehari hanya mengerjakan sekitar 10 buah. Ini karena saya masih menjajaki pasar, selain modal harus merogoh kocek sendiri,” papar Puspita, yang mengaku hanya bermodalkan Rp 500.000 untuk mengawali usahanya.

Selama ini, pembeli selain dari teman-teman sesama pengajar, Puspita juga memanfaatkan media internet. Upayanya berhasil. Terbukti, sejumlah pembeli yang rata-rata kalangan mahasiswa rutin membeli produknya. Mereka datang dari Surabaya, Malang, serta Mojokerto.

Ia mengaku membidik celah pasar segmen menengah bawah. Maklum, harga yang dipatok cukup terjangkau di kisaran Rp 8.000-22.000 per buah. “Pasar aromaterapi masih cukup potensial, meski pemain di pasar ini cukup banyak. Tergantung inovasi masing-masing saja,” ungkap Puspita. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...