Langsung ke konten utama

Memilah Sampah Menuai Berkah


Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih.

Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut.

Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian.

“Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik.

Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa bahan praktikum di perkuliahan, seperti potongan kain, tali, pita, karton, plastik, kertas, manik-manik. Jadilah kalung-kalung cantik,” jelas Tyas.

Produk daur ulang yang beredar di pasar Surabaya jumlahnya sudah menjamur, bahkan tak sedikit yang diekspor. Namun, yang namanya kerajinan tangan, usianya rata-rata tidak terlalu lama tergantung bahan dasarnya.

Macam budaya latah, kerajinan dari bahan daur ulang gampang ditiru. Market-nya gampang jenuh. Apabila si pencetus ide tidak sigap berinovasi maka produknya sesegera mungkin ditinggalkan pasar. “Namanya hand made maka harus punya ciri khas yang tentu saja dipatenkan,” ucap lajang kelahiran 14 Desember 1990 ini.

Mengusung label Meralodist (singkatan dari ketiga orang penggagas usaha ini, Amera, Alodia, Nastiti), kalung buatannya ini melanglang hingga ke luar pulau.

“Paling jauh pembeli dari Aceh dan Lombok. Mereka beli 10-15 pieces. Harga per pieces rata-rata Rp 30.000-40.000. Kalau beli lebih dari 10 bebas ongkos kirim,” akunya. Ia mengaku tidak memroduksi terlalu banyak lantaran juga masih fokus studi.

Produksinya dibikin per tema. Urusan desain dipercayakan pada temannya. Per bulan bisa laku 100-150 pieces. Atas keuletannya itu, Tyas berhasil mendapatkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Dirjen Dikti sebesar Rp 6,9 juta.

Produksi By Order

Indar Nurtrihansyah, mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS pencetus kerajinan berbahan dasar serabut atau sabut kelapa mengaku, jika Jatim punya sumber bahan daur ulang yang melimpah. Nilai ekonomian produk daur ulang biasanya lebih baik apabila pengolahan dan packaging-nya juga menarik.

“Kita sering lihat sabut kelapa melimpah di pinggir jalan. Melalui seorang kenalan perajin di Malang, sabut itu bisa dipakai untuk craft. Sabut kelapa diproses dengan mesin press atau mesin gerinda, dicacah lalu dikeringkan untuk dijadikan serbuk seperti pasir,” jelas Indar.

Lalu ditempel di atas kertas karton yang telah dibentuk sesuai keinginan. Tempat tissue, box file, jam dinding, tabungan alias celengan, sampul buku suvenir dengan kertas daur ulang, serta kap lampu. Bagian atasnya dihias sesuai selera.

“Saya dan teman-teman yang menggarap usaha ini dapat dana PKM dari Dikti Rp 5 juta untuk pengembangan usaha. Awalnya dana yang kita kumpulkan cuma Rp 1 juta,” imbuh pria kelahiran Semarang 13 Februari 1989 ini.

Usaha yang digarap rame-rame dengan teman jurusannya ini dijamin tak mengganggu kuliah lantaran proses penggarapannya dilakukan saat weekend. “Kalau proses produksinya di Malang, karena bahan baku di sana banyak sekali. Ide, desain dan finishing dilakukan di Surabaya,” kata Indar. Pengembangan ide menggunakan desain animasi dan 3D.

“Berhubung masih sangat awal, kita produksinya by order. Belum punya galeri atau outlet khusus. Pemasarannya lebih aktif melalui website www.cocosnoot.com dan rajin ikut pameran,” ujarnya.

Harga jual per pieces cukup terjangkau, sekitar Rp 30.000. “Tapi kita juga terima order dengan desain sesuai keinginan pembeli. Semakin rumit desainnya tentu harga akan menyesuaikan,” katanya.

Dalam seminggu, ia dan kawan-kawannya bisa memroduksi minimal 20 pieces. “Selain untuk koleksi pribadi, biasanya produk kita dipakai untuk suvenir pernikahan,” ujarnya.

Salah satu penggemar produk daur ulang, Nina Wulandari mengungkapkan, nilai seni produk recycle amat tinggi. “Nggak heran kalau harganya agak mahal dibandingkan produk sejenis tapi bahan dasarnya bukan dari recycle,” kata gadis belia 17 tahun ini.

Kerajinan dari bubur koran, sandal dan tas dari bahan eceng gondok adalah koleksi produk daur ulang yang terpampang di rumahnya. “Yang ngenalin kerajinan daur ulang itu kakak aku,” pungkas Nina. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Agar Dikenal, Mesti Aktif Pertemuan Bisnis

Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar. Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan. “Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7). Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tid...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...