Langsung ke konten utama

Gagal ke Afsel, Garap Pasar Lokal

Memang tidak semua perajin UKM yang ingin berkontribusi pada perhelatan PD 2010, bisa berhasil. Beberapa UKM asal Jatim gagal karena kalah bersaing dengan produk dari negara lain.

“Kerajinan UKM kita banyak terjegal produk China, karena kalah bersaing di tingkat harga. Meski secara kualitas lebih bagus, tapi selisih harga sangat jauh. Praktis, importir lebih memilih produk China,” kata Vanda Kristia Gayatri, perajin kayu motif tsunami.

Selama ini produk dengan label Gayatri Handicraft ini sudah banyak dipasarkan ke Eropa. “Tapi saya tidak ekspor langsung, produk-produk saya jual ke salah satu pedagang di Jepara dan merekalah yang kontinyu mengirim ke Inggris,” ujar wanita 37 tahun ini.

Gayatri Handicraft memiliki ciri khas liuk-liuk gelombang tsunami di setiap produknya. Semuanya terbuat dari kayu yang didatangkan dari daerah Menganti, Mojokerto, Lamongan. Ada kotak perhiasan, miniatur becak, sepeda motor, mobil, kapal hingga produk kerajinan kayu lainnya. Harga per pieces mulai Rp 75.000 hingga Rp 150.000.

“Kalau diekspor, harganya bisa berlipat-lipat. Marjin menjual kerajinan cukup menggiurkan, terutama jika diekspor. Sebetulnya besar harapan saya bisa bergabung dalam even piala dunia nanti. Sayangnya kita kalah bersaing,” keluh ibu dua anak ini.

Karyawan Universitas 17 Agustus 1945 ini mengungkapkan, saat ini kapasitas produksi per bulan rata-rata 5-9 meter kubik kayu, tiap 4,5 meter kubik kira-kira bisa menghasilkan 300 pieces barang. Jadi, sekitar 600 pieces. Itu pun karena orderan kita memang segitu,” papar Vanda.

Saat ini di bengkel dan showroom-nya yang terletak di Ambeng-ambeng Ngingas, Waru, ada sekitar lima tukang yang menggarap kerajinannya. Tukang bagian desain dan gergaji cuma satu orang.

“Saya buka usaha ini baru setahun lalu. Modalnya Rp 50 juta untuk beli bahan baku dan mesin gergaji, serta sewa dan renovasi gudang yang dijadikan bengkel, sekaligus showroom. Sewa gudang untuk tiga tahun dikenakan Rp 30 juta,” katanya.

Ide membuka usaha ini berawal dari sang suami, Bambang Wijanarko, 42, seorang teknisi menara BTS (base transceiver station). “Kebetulan suami tertarik dengan kerajinan kayu dan punya kenalan tukang yang punya spesialisasi membuat produk semacam itu,” kisah Vanda, yang kini omzet usahanya per bulan rata-rata Rp 10 juta, bahkan bisa sampai Rp 35 juta.

Meskipun urung memberikan kontribusi di perhelatan piala dunia, Vanda tak menyerah. “Saya ingin memaksimalkan pasar dalam negeri. Potensi pasar kerajinan di Jatim sebetulnya masih cukup besar, tinggal bagaimana kita pandai membidik selera konsumen,” imbuhnya.

Rencananya, pasar ke luar pulau tahun ini juga dijajagi. Perajin kayu serupa Gayatri Handicraft banyak ditemui di daerah Jawa Tengah, seperti Jogjakarta, Solo, Purwokerto, Jepara. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih. Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut. Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian. “Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik. Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa ...

Peluang Usaha Kreatif Daur Ulang Limbah

Banyaknya limbah atau sampah yang setiap harinya diproduksi masyarakat, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Segala macam usaha dilakukan pemerintah dan instansi swasta untuk menyelamatkan lingkungan dari tumpukan limbah sampah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Program pemerintah untuk mengolah semua sampah, ternyata dimanfaatkan sebagian masyarakat menjadi peluang usaha baru yang bertujuan menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Dengan munculnya peluang bisnis kreatif daur ulang limbah, dapat mengurangi jumlah limbah yang menumpuk serta memberikan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku bisnisnya. Limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, dengan kreativitas dan inovasi dari para pelaku bisnis, limbah sampah dapat didaur ulang dan dirubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Limbah organik seperti kayu, dedaunan, kulit telur serta tulang hewan dapat didaur ulang dan diolah menjadi berbagai kerajinan unik atau d...