Langsung ke konten utama

Menjaring Rupiah dari Rajutan Tas Talikur


Talikur (drawstring) yang biasa digunakan sebagai tali sepatu dan tali peluit (setelah dianyam), ternyata bisa disulap menjadi tas tangan yang eksotik dan menawan. Bahkan, bisa dibilang bernilai eksklusif karena hampir 100 persen pengerjaan tas talikur ini mengandalkan keterampilan merajut.

Kreasi kreatif itu benar-benar terwujud ketika talikur nilon dan katun berada di tangan Sulastri, 51, warga Jalan Merdeka, Desa/Kecamatan Mojowarno, Jombang. Ia memulai membuat ketrampilan tas ini sejak tiga tahun silam, ketika seorang tantenya menularkan ilmu merajut talikur.

“Semua dibuat menggunakan tangan, hanya saat menjahit lapisan dalamnya menggunakan mesin jahit. Mula-mula model dan warnanya itu-itu saja, kemudian saya kembangkan sendiri,” kata Sulastri, ditemui di kediamannya, Senin (19/7).

Dia pun lantas merancang berbagai bentuk tas rajut, dengan paduan warna yang lebih matching. “Kami kombinasikan dengan berbagai aplikasi, utamanya mutiara,” imbuh Sulastri, yang akrab disapa Cik Giok.

Agar lebih elegan, dia menempelkan logam antikarat berbentuk inisial atau huruf G, yang merupakan singkatan dari namanya, Giok. “Ini sekaligus sebagai merek,” tandasnya.

Setelah jadi, tas-tas itu dipajang di etalase rumah yang juga sebagai salon kecantikan bernama Monalisa. “Pembeli awalnya pelanggan salon, tapi berkembang ke masyarakat umum,” ceritanya.

Kini pelanggannya sudah banyak. Bahkan, dirinya mengaku tidak pernah punya stok. “Lebih banyak justru by order. Mereka pesan, kami buatkan sesuai kemauan pemesan,” tambahnya.

Itu pula yang mendasarinya untuk menyediakan sejumlah foto berbagai contoh model tas rajut. “Dengan melihat foto ini, pemesan bisa memilih sesuai selera,” kata Cik Giok, sembari memperlihatkan foto-foto model tas.

Pembeli tas rajut talikur beragam, kalangan istri pejabat hingga pembeli yang berniat untuk menjual kembali, terutama dibawa ke luar pulau. “Kabarnya kalau di luar pulau, misalnya Aceh, harganya bisa dua kali lipatnya,” papar Cik Giok.

Harga tas rajut made in Sulastri ini beragam, sesuai ukuran serta tingkat kesulitan saat membuatnya. Yang jelas, harga satu tas berkisar antara Rp 90.000 hingga Rp 300.000. Kendati cukup laris, dia hanya memiliki satu karyawan. Ini karena Sulastri lebih suka mengerjakan sendiri pekerjaan merajut. “Karyawan biasanya saya beri tugas mengerjakan yang mudah-mudah saja, sedang yang relatif sulit saya kerjakan sendiri. Rasanya lebih puas,” kilahnya.

Karena lebih banyak dikerjakan sendiri, Cik Giok tidak bisa memproduksi secara massal. “Satu tas memerlukan waktu beberapa hari, bahkan ada yang sampai seminggu,” tuturnya.

Konsekuensinya, omzet tidak terlalu besar. “Kalau soal omzet, saya tidak pernah menghitung. Bagi saya yang paling penting bisa berkarya, dihargai dan dimanfaatkan orang,” imbuh Cik Giok.

Kerajinan tas bukan hanya dari talikur saja. Wahliya Rosa, 27, membuktikan dengan membuat dari bahan daur ulang berbahan spunbond. Tidak butuh modal besar, tapi keuntungan menjanjikan.

Bahan spunbond ini mungkin agak awam terdengar di telinga. Lazimnya, bahan ini dikenal sebagai kain laken (nonwoven/sisa kain yang dipress). Banyak dipakai untuk tas goodybag seminar dan hajatan.

Wahliya Rosa mengatakan, spunbond mudah didapat, harganya murah dan ramah lingkungan. “Tinggal bagaimana kita mencari pasar, lalu mengkreasikan bentuk dan sablonan gambar atau tulisan,” katanya, Rabu (21/7).

Harga jual tas berbahan spunbond sangat terjangkau, untuk model standar rata-rata Rp 3.000–6.000/pieces. Tas dengan kerumitan tertentu Rp 10.000-15.000/pieces. “Promosinya terbilang gampang, bisa melalui website, mencantumkan nama dan nomor telepon di tiap tas yang sudah diproduksi atau kerja sama dengan instansi, perusahaan, serta lembaga pendidikan,” jelas Wahliya.

Di Surabaya, pelaku usaha tas spunbond jumlahnya puluhan. “Kualitas bahan beragam, harga juga beda-beda. Bahan baku terbesar dari Gresik,” ujar wanita yang memulai usaha sejak 2007.

Ide awalnya, ia kesulitan mencari tas pembungkus hantaran saat pertunangannya. Seorang teman memberi contoh tas spunbond, dari situlah ide berkembang. Tiap minggu kini ia dan suami bisa memproduksi 3.000–4.000 pieces. “Kalau musim hajatan pasti ramai, misalnya Idul Adha, Lebaran, musim sunat, bulan besar saat kawinan,” sambung Wahyu Budi Sukarno, 29, sang suami.

Wahyu Budi menambahkan, modal awal membuka usaha ini cuma Rp 400.000. Termasuk beli bahan, ongkos pemotong kain, ongkos penjahit lepas dan ongkos sablon. ”Sekarang omzet minimal Rp 16 juta per bulan. Alhamdulillah bisa nutup biaya hidup karena istri sudah keluar dari pekerjaannya sebagai perawat,” pungkas pria, yang memiliki gerai di Griya Karya Sedati Permai.

Wulandari Triana, pengguna jasa tas spunbond mengaku, pernah mengorder 50 unit tas untuk acara sunatan putra sulungnya. Tas ini, diakuinya, lebih awet dan lebih ramah lingkungan.

“Ordernya di daerah Rungkut. Sengaja saya pesan tas dari bahan kain itu karena kalau tas kresek atau tas karton sudah biasa. Selisih harga per pieces juga sedikit,” lanjut wanita, yang sehari-hari tenaga pemasaran ini. surya.co.id

Postingan populer dari blog ini

Agar Dikenal, Mesti Aktif Pertemuan Bisnis

Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar. Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan. “Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7). Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tid...

Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan

Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita. Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah : Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi. Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo. Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (re...

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini

Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor). “Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak. Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini. Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang p...