Langsung ke konten utama

Postingan

Jalan Dua Tahun, Kini Minimal Produksi 100 Kotak Per hari

Bisnis roti lapis legit memang sudah menjamur. Hampir di setiap kota, roti ini bisa dijumpai. Namun, di setiap daerah lapis legit menawarkan citarasa yang berbeda-beda. Tergantung inovasi si pembuat roti. Di Surabaya, ada banyak pelaku usaha lapis legit mulai skala mikro sampai pabrikan. Olahan rasanya pun beragam, demikian pula adonannya. Ada yang dicampur rasa durian, cokelat, kismis, kacang almond, strawberry. Lapit legit pun menjelma ke dalam berbagai varian rasa. Salah satunya dilakoni Sukirno, 32, warga Menanggal Surabaya ini. Keahlian membuat lapis legit, awalnya ia dapatkan ketika bekerja di Jakarta. “Saya ikut usaha perorangan yang khusus bikin lapis legit selama lima tahun di Jakarta. Setelah saya merasa mampu berdikari, saya memilih keluar dan mendirikan usaha sendiri bersama teman-teman asal Purwokerto yang juga merantau di Jakarta,” kata Sukirno, Jumat (17/9). Dua tahun silam, bermodal Rp 45.000 setiap orang, ia bersama tiga kawannya yang lain menjajal mendirikan u...

Aman, Makan Lebih Enak

Bandeng adalah ikan yang sangat digemari. Rasanya yang khas, serta harganya yang murah membuat ikan ini banyak dilirik untuk dikonsumsi. Namun, disamping rasa yang enak, bandeng memiliki duri yang cukup banyak. Agar kita mudah memisahkan duri dari dagingnya, sebelum disiangi tarik ikan itu sampai berbunyi “krek” (dipegang dikepala & ekornya, terus ditarik). Durinya akan terkumpul didekat kulitnya. Selain ditarik sampai bunyi “krek” ada cara lain, yaitu ikan bandeng disayat melintang dari ujung kepala sampai ekor. Buat sayatan yang dalam dan jaraknya serapat mungkin ( 0.5-1cm). Baru setelah itu dibumbui dan dimasak sesuai selera. Dijamin… duri hilang, tinggal duri tengahnya saja. Saat ini bandeng bsia disajikan dengan berbagai macam cara, mulai digoreng biasa, diasap atau dimasak menggunakan panci presto hingga duri-duri yang bertebaran lunak seketika. Bagaimana memilih bandeng yang kondisinya bagus dan masih segar? Ciri cirinya adalah: 1 Bau Bandeng masih terasa segar, kh...

Kue Kering, Renyah di Mulut Ringan di Kantong

Berlebaran tanpa kue kering rasanya tak afdol. Tradisi bertahun-tahun, suguhan kue kering menjadi wajib ada di tengah kebersamaan keluarga, saudara, teman dan tetangga, saat merayakan hari nan fitri. Penjual kue-kue kering pun memanfaatkan momen ini untuk meraup rupiah. Bagi Sulastri, 29, tradisi membeli kue kering Lebaran sudah turun-temurun dilakukan keluarganya sejak ia masih kecil. “Saya sudah punya langganan sendiri, tetangga saya di daerah Bronggalan Sawah. Perpaduan resep kuenya pas. Meski harganya agak sedikit mahal dibandingkan yang dijual di toko, tapi rasanya memang lebih enak,” kata karyawan sebuah perusahaan kontraktor ini. Sekali borong minimal Rp 500.000 terdiri dari beberapa item kue. “Kebetulan saya keluarga besar, jadi ada yang saya konsumsi sendiri dan ada yang saya berikan keluarga suami. Saya tinggal di rumah ibu dan ibu saya anak sulung, sementara saya anak bungsu pasti ramai kalau Lebaran,” ujar ibu dua anak ini. Kebutuhan kue kering tidak saja dipakai ha...

Ubah Bentuk, Antarkan Jajanan Pasar Masuk Hotel

Puluhan tahun lalu kue tradisional atau akrab disapa jajanan pasar hanya bisa ditemui di pasar-pasar tradisional atau pinggiran jalan. Namun seiring inovasi yang dilakukan pecinta kuliner makanan, jajanan sederhana itu mulai terangkat derajatnya, menjadi suguhan resmi pejabat dan tamu-tamu penting, yang otomatis ikut mengerek harganya. Sosok Winarni Boediman atau yang akrab disapa Ny Yasin Zein adalah sosok di balik itu. Ide untuk mengangkat citra kue-kue tradisional, seperti kue bugis, getas, hunkwee jagung, jongkong Bangka, ongol-ongol, nogosari, talam pisang, putri mandi, lapis coklat dan lainnya, muncul setelah ia menetap dan tinggal di Surabaya, sekitar tahun 1960-an. Lahir di Bangka Belitung tahun 1937, Winarni kecil memang telah tertarik membuat kue-kue tradisional, karena sering membantu tetangganya yang hajatan. Kegemaran itu terus diasahnya meski ia hijrah ke Surabaya. Berbagai kursus pun ia ikuti. “Di Surabaya saya bersama bapak membuat dan menjajakan sendiri kue trad...

Dari Susah Cari Modal, Sekarang Banjir Pinjaman

Bisnis kerajinan berbahan dasar kayu bisa jadi merupakan bisnis yang tak lekang oleh zaman. Kerajinan kayu memiliki segmen pasar yang cukup loyal. Inovasi dan keunikannya juga membuat produk kerajinan ini tetap diakui pasar. Bagi Sumarwan alias Linggo, menekuni bisnis kerajinan kayu berawal dari kegemarannya melancong ke Bali. Dari sanalah ia terinspirasi untuk belajar ilmu mengolah kerajinan kayu. “Awalnya cuma bikin cincin kayu, lalu gelang kayu, kemudian berkembang membuat wadah-wadah multifungsi dari kayu, serta aneka hiasan dari kayu,” ujar pria kelahiran Situbondo 36 tahun lalu, ditemui di sela Pameran Aneka Kerajinan Garmen dan Produk Kulit di Gramedia Expo, Kamis (26/8). Biasanya, ide baru muncul setelah melihat bentuk kayu mentahnya. “Baru bisa diproses kalau sudah melihat model kayunya. Sebab tidak semua kayu cocok untuk dibuat cincin atau gelang atau wadah-wadah itu,” jelas bapak satu anak ini. Khusus untuk wadah kayu biasanya dibuat dari kayu jati, ada pula yang dib...

Menghias Untung dari Wadah Parcel

Ketertarikan konsumen terhadap parcel bukan terbatas hanya dari isi atau bagaimana pengemasannya. Kini, parcel tampil makin cantik berkat wadahnya. Alhasil, ragam wadah pun mulai diproduksi menggunakan bahan baku rotan, kawat, besi, hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Usaha yang paling menggiurkan menjelang Lebaran sekarang ini, salah satunya adalah bisnis yang berhubungan dengan parcel. Setiap memasuki bulan Ramadan, produk atau kerajinan tempat parcel menjadi jujugan mereka yang bergelut di usaha pengemasan parcel. Seiring dengan perkembangan kebutuhan dan tren, wadah parcel tak lagi konvensional, baik bahan maupun modelnya. Kini, wadah parcel kian beragam, mulai dari rotan, kombinasi rotan dan besi, besi atau kawat, box kardus hingga yang terbuat dari bahan limbah atau daur ulang. Diana Sari, warga Ngagel Surabaya yang biasa menerima pesanan parcel mengaku, jauh sebelum bulan Ramadan ia telah berburu contoh-contoh wadah parcel yang akan ia tawarkan ke konsu...

Tumbuh dari Modal Awal Rp 10.000 dan Semangat Rock

Kecintaan pada musik rock tidak hanya mendorongnya menjadi musisi. Tapi, justru membentuknya menjadi pengusaha distributor outlet (distro) yang menjual aneka aksesoris berbau rock. Kini dari usahanya ini, setidaknya pemasukan Rp 5 juta per bulan bisa dikantongi. Profesi musisi dan pengusaha bisa berjalan seiring. Ini setidaknya dibuktikan oleh Budho Adhi Sadharmo, 31, yang akrab dipanggil Bodhas. Tidak hanya berhenti sebagai musisi, sejak usia muda ia sudah melirik usaha toko yang menjual aksesoris berbau rock. Salah satu pentolan grup band Devadata ini pun nekat merintis usaha ini hanya dengan bermodalkan uang senilai Rp 10.000. “Pertama kali coba-coba usaha tahun 1999, dengan modal Rp 10.000 beli bahan gelang karet hitam rol-rolan terus saya potong-potong sendiri, dimodifikasi, lalu saya jual,” kisah Bodhas. Gelang karet hitam itu dijual dalam kemasan plastik berisi sepuluh buah dengan harga Rp 6.500 per bungkus. Gelang yang menjadi aksesoris penunjang penampilan ‘rocker’ itup...